Minggu, 19 April 2009

PERJAMUAN KUDUS

Pdt.G.Panjaitan.STh.MSi

Nats.: 1 Kor 11: 24 -26

1. Sakramen adalah penyataan diri Allah kepada manusia dalam bentuk nyata berupa, roti, anggur dan air. Di dalam gereja Kristen Protestan ada dua sakramen, yakni Baptisan Kudus dan Perjamuan Kudus. Kedua-duanya dilayankan dalam persekutuan jemaat. Adanya Sakramen-Sakramen dalam gereja adalah sesuai dengan perintah Tuhan Yesus. Yesus sendiri yang menetapkan Baptisan Kudus (Mat. 28 : 19-20). Dan Dia juga yang menetapkan Perjamuan Kudus supaya dirayakan/dilaksanakan sebagai “peringatan” akan Dia sampai Ia datang kembali” (Mat. 26 : 29 ; Mark. 14 : 25 ; 1 Korit.11 : 26). Berarti, gereja yang tidak melaksanakan Sakramen-Sakramen, hal itu menunjukkan bahwa gereja itu tidak taat kepada perintah Tuhan Yesus. Kalau seorang kristen tidak mau dibabtis atau tidak mau menghadiri pelaksanaan Perjamuan Kudus, berarti orang itu telah menolak perintah Tuhan Yesus di dalam hidupnya.

2. PERJAMUAN KUDUS
Perjamuan Kudus adalah salah satu “perayaan” yang paling penting dari gereja Kristen dan menjadi pusat pemberitaan. Di Gereja HKBP meja altar disebut juga sebagai meja pelayanan sakramen dan diposisikan diposisi sentral. Perjamuan Kudus yang dilaksnakan Yesus berhubungan dengan Perjamuan perpisahan” pada malam terakhir sebelum Ia ditangkap dan menderita sengsara di kayu salib. Perjamuan itu berhubungan dengan Perayaan Paskah Israel. Pesta Paskah orang Israel adalah Pesta Pengucapan Syukur yang berhubungan erat dengan “Pembebasan Israel” dari perbudakan di Mesir, (Kel. 12) dan untuk menyatakan “karya penyelamatan Allah di dalam Kristus” kepada manusia.
Perjamuan kudus mengandung berbagai makna penting dalam iman Kristen. Didalam perjamuan kudus ada:
a. Pengucapan syukur
Pengucapan Syukur karena suatu “Pesta Kemenangan”. Kita diundang supaya bersukacita sebab melalui Perjamuan Kudus, Ia mengatakan kepada kita : “untuk dosa-dosamu, Ia telah bangkit”. Di dalam Dia, berarti oleh kematianNya dan kebangkitanNya, Allah telah mendamaikan kita dengan diriNya. (2 Korint 5 : 18 – 19). Sekarang kita telah memperoleh persekutuan dengan Dia, karena itu kita harus bergembira dan bersukacita. Kita harus mengucap syukur kepadaNya atas kasih dan anugerahNya.
Dalam Perjamuan Kudus kita menerima roti dan anggur, dimana hal itu yang menunjuk kepada “tubuh” Kristus yang dipecah-pecah dan “darahNya” yang dicurahkan untuk kita. Pembagian roti dan anggur yang diberkati dalam Perjamuan Kudus mengandung arti akan adanya “penyaluran berkat”. Hal ini membuat kita sadar betapa mahalnya harga yang harus dibayar oleh Yesus untuk keselamatan kita. Melalui Perjamuan Kudus, orang-orang percaya mengalami dan menerima anugerah Allah. Dengan demikian Yesus telah melibatkan orang-orang percaya dalam kedatangan Kerajaan Allah (Mark. 14 : 23) dimana di dalam Kerajaan Allah orang-orang percaya telah dipersekutukan dengan Allah. (Joh. 17 : 24).
b. Peringatan Akan Yesus
Pada waktu Yesus dan murid-muridNya melaksanakan Perjamuan Kudus sebelum Ia diserahkan, menurut kesaksian rasul Paulus ( 1 Korint 11:23-34) dibuat dalam rangka pringatan akan Yesus. Yang dimaksud dengan peringatan akan Yesus dalam Perjamuan Kudus, adalah peringatan akan kematianNya di kayu salib. Dan arti dan tujuan peringatan ini adalah sebagai “pemberitaan akan keselamatan” yang dihasilkan (dikerjakan) oleh kematian dan kebangkitan Yesus sampai Ia datang kembali ( I Korint 11:26). Peringatan berbakna memasakinikan kembali penghayatan akan pengorbanan Yesus itu.
c. Pemberian Roh Kudus
Perjamuan kudus adalah pemberian Roh Kudus . Roti dan anggur tidak otomatis berubah menjadi tubuh dan darah Kristus . Waktu pelayan (=pendeta) mengucapkan “kata-kata peneguhan” perjamuan kudus, bahwa roti tetap roti dan anggur tetap anggur. Akan tetapi oleh pekerjaan Roh Kudus, kita beroleh persekutuan dengan Kristus (kematian dan kebangkitanNya) yang benar-benar hadir dalam Perjamuan Kudus yang kita laksanakan. Dengan demikina Perjamuan Kudus itu juga sebagai Perjamuan Persekutuan didalamnya kita temukan “kesukaan dan kegembiraan” karena kita telah benar-benar dipersekutukan dengan “Tubuh dan darah” Kristus yang telah menjadi “PERJANJIAN BARU” (1 Kor. 11 : 23 dst) dan melalui Perjamuan Kudus yang mempersekutukan jemaat, sehingga kita telah menjadi milik Kristus.
d. Perjamuan Kudus sebagai Perjamuan Agung di masa depan
Ketika Tuhan Yesus melaksanakan Perjamuan Kudus bersama-sama dengan murid-muridNya, Ia berkata : “Mulai dari sekarang Aku tidak minum lagi hasil pokok anggur ini sampai hari Aku meminumnya, yaitu yang baru bersama-sama dengan kamu dalam Kerajaan BapaKu” (Mat. 26 : 29 ; Mark. 14 : 25). Dalam Perjanjian Lama, kegenapan (=Kepenuhan) keselamatan dari Kerajaan yang akan datang, dilihat sebagai suatu “Perjamuan Gembira” di dalam Kerajaan BapaNya. Barang siapa yang telah menjadi milikNya akan turut ambil bagian di dalamnya, ia akan duduk bersama-sama dengan Dia di meja Perjamuan Agung dalam Kerajaan Allah, (Band. Mat. 8 : 11 ; Luk. 13 : 28; 14 : 13). Dengan demikian dalam Perjamuan Kudus kita benar-benar menerima “REPRESENTASI” dari keselamatan yang Allah berikan kepada manusia di dalam Kristus. Dan di dalam Perjamuan Kudus kita teguhkan di dalam pengharapan untuk menemukan kesempurnaan Perjamuan Agung di masa depan di dalam Kerajaan Allah Bapa Tuhan Yesus Kristus, (Band. Wahyu 2 : 7 ; 21 : 7). Amin

Kamis, 16 April 2009

Paskah: Pesta kehidupan&Kemenangan

Pdt.G.Panjaitan.STh.MSi

Kisah Para Rasul 10:39-43

Paskah dirayakan oleh segenap umat Kristen di seluruh dunia dengan sukacita. Pada saat paskah kita mengingat Dia yang lahir di desa kecil bernama Betlehem oleh ibu sederhana. Kita mengenang Dia yang dibesarkan selama 30 tahun di pertukangan kayu dan selama tiga tahun menjadi pengkhotbah keliling dan mempunyai beberapa orang pengikut. Dia seorang yang tidak pernanah menulis buku, tidak pernah membuka satu kantor, tidak pernah mempunyai satu keluarga berbahagia dan tidak pernah kuliah dan meraih gelar kesarjanaan. Kita merayakan Dia yang tidak pernah mengunjungi kota-kota besar dan bersejarah seperti Italia, Roma , Konstantiopel dll.Dia tidak pernah mengadakan perjalanan lebih dari 100 km dari tempat kelahirannya. Ketika Dia populer kebanyakan orang kecil sederhana yang mendukung dia. Ketika Dia ditangkap dengan tuduhan memfitnah agama, Dia diperlakukan dengan tidak adil, teman-temanNya meninggalkanNya. Dia disalibkan diantara dua penjahat dan pada saat getir seperti itu para pengeksekusi memperebutkan pakaiannya dengan judi. Dia dikuburkan oleh kerabat dekat dengan buru-buru. Untuk Diakah kita merayakan Paskah ? Ya untuk Dia “ Yang telah dibangkitkan Allah pada hari yang ketiga, dan Allah berkenan”. Kebangkitan Yesus menjadi dasar iman dan pengharapan Kriten. Paulus mengajarkan sentralnya Paskah itu, dia mengatakan “ Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.” ( 1Kor 15:13-14).

Paskah adalah pesta kehidupan yang merayakan sebuah fakta yang sangat sulit dierima oleh akal/rasionalitas manusia. Paskah adalah peristiwa ketika manusia diperkenankan memasuki awal sejarah dan realitas baru bahwa kehidupan berkuasa atas kematian. Bukan seperti sebelumnya, ketika seakan-akan kematianlah yang menguasai kehidupan. Paskah menyatakan bahwa kita menyembah Tuhan yang hidup dimana kita dapat berkomunikasi denganNya. Allah yang hidup inilah yang mendorong Petrus yang menjadi saksi Atas kebangkitan dan kehidupan Yesus.

Paska adalah pesta kemenangan “ Christos Victor”, kematian dikalahkan oleh kebangkitan Yesus. Kemenangan Yesus adalah representasi kemenangan orang-orang kecil di mana-mana, yang teraniaya dengan semena-mena. Paskah adalah simbol kemenangan dari kehendak baik atas konspirasi jahat, kemenangan dari yang adil atas yang tidak adil, kemenangan dari kuasa kasih atas kekuatan dendam dan kebencian. Paskah jaminan kemenangan dari kuasa yang menghidupkan atas ketakutan yang mematikan. Amin.

Paskah: Pesta kehidupan&Kemenangan

Pdt.G.Panjaitan.STh

Kisah Para Rasul 10:39-43
Paskah dirayakan oleh segenap umat Kristen di seluruh dunia dengan sukacita. Pada saat paskah kita mengingat Dia yang lahir di desa kecil bernama Betlehem oleh ibu sederhana. Kita mengenang Dia yang dibesarkan selama 30 tahun di pertukangan kayu dan selama tiga tahun menjadi pengkhotbah keliling dan mempunyai beberapa orang pengikut. Dia seorang yang tidak pernanah menulis buku, tidak pernah membuka satu kantor, tidak pernah mempunyai satu keluarga berbahagia dan tidak pernah kuliah dan meraih gelar kesarjanaan. Kita merayakan Dia yang tidak pernah mengunjungi kota-kota besar dan bersejarah seperti Italia, Roma , Konstantiopel dll.Dia tidak pernah mengadakan perjalanan lebih dari 100 km dari tempat kelahirannya. Ketika Dia populer kebanyakan orang kecil sederhana yang mendukung dia. Ketika Dia ditangkap dengan tuduhan memfitnah agama, Dia diperlakukan dengan tidak adil, teman-temanNya meninggalkanNya. Dia disalibkan diantara dua penjahat dan pada saat getir seperti itu para pengeksekusi memperebutkan pakaiannya dengan judi. Dia dikuburkan oleh kerabat dekat dengan buru-buru. Untuk Diakah kita merayakan Paskah ? Ya untuk Dia “ Yang telah dibangkitkan Allah pada hari yang ketiga, dan Allah berkenan”. Kebangkitan Yesus menjadi dasar iman dan pengharapan Kriten. Paulus mengajarkan sentralnya Paskah itu, dia mengatakan “ Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.” ( 1Kor 15:13-14).



Jumat, 03 April 2009

TUHAN RAJA YANG MAHA BESAR

Pdt.Gunawan Panjaitan.STh.MSi

Mazmur 99:1-7
Posisi sebagai raja mungkin saja menjadi idaman banyak orang. Para pemimpim pemerintahan di daerah kadang mereka disebut “raja-raja kecil” karena mereka memiliki kekuasaan yang sangat luas. Mereka dapat membuat Peraturan Daerah yang menguntungkan sepihak misalnya perda tenatang hasil bumi rayat dan peternakan dikenakan retribusi atau pajak. Selain itu, pada saat kita megenang hari berharga dalam kehidupan kita yaitu hari pernikahan, pengantin Pria dan wanita disebut “raja sehari”. Mereka dilayani, diberi hadiah, disalami, diucapkan selamat dan memang diperlakukan sebagai raja. Kemunidan, dalam kultur budaya berbagai suku, mereka memahami setiap angota disebut sebagai “anaknya raja dan putrinya raja”. Tujuannya adalah mengajarkan pentingnya sikap terhormat dan terpelajar.

Raja adalah istilah yang dipakai dalam dunia politik dan dalam satu sisitim pemerintahan monarchy, misalnya kerajaan Inggis atau kerajaan Monako, mereka mempunyai wilayah territorial, penduduk dan sistim pemerintahan. Raja juga juga dipakai untuk menggambarkan situasi dimana ada keadaan yang dihormati dan disegani, dan tidak ada hubungannya dengan territorial dan sistim emerintahan. Dalam teologia kita juga menemukan dogma tentang kerajaan Allah. Dalam setiap ibadah kita mendoakan “datanglah kerajaanmu”. Kerajaan Tuhan tidaklah istilah politik tetapi istilah teologi yang menyakini bahwa Tuhan dipuji sebagai sebagai Raja yang Mahabesar. Tuhan Raja atas segala bangsa, yang mencintai hukum dan keadilan, yang menjawab seruan permohonan dan mau mengampuni, dan yang nyata kekudusanNya.Kerajaan Tuhan lebih bersifar kondisional. Kepada Tuhan yang demikian, pemazmur mengajak umat untuk memuji Tuhan, meninggikan Tuhan dan menyembahNya. Namun tidak cukup hanya di situ, meninggikan Tuhan dan menyembah Tuhan memang sepertinya terkesan abstrak, karena itu pemazmur menjelaskan lebih lanjut bagaimana caranya meninggikan dan menyembah Tuhan.
Pemazmur menyebutkan nama para pendahulunya seperti Musa, Harun dan Samuel sebagai orang-orang yang berseru kepada Tuhan dan berpegang pada peringatan-peringatanNya. Mereka terbukti menjadi orang yang selalu berdoa bagi bangsa yang dipimpinNya dan menjaga firman Tuhan tetap hidup dalam diri mereka sebagai para pemimpin bangsa. Mereka ini menjadi teladan bagaimana seseorang dapat menyatakan kebesaran dan kekudusan Tuhan, yaitu dengan cara hidup berpegang pada hukum/firman Tuhan.
Berdasarkan pengalaman, orang percaya dan mungkin dunia yang mengakui ada Tuhan tidak sulit untuk mengakui kebesaran dan kekudusan Tuhan. kita dapat setuju dan mengaminkan dalam pikiran dan perkataan. Namun ternyata pengakuan itu acap kali tidak sejalan dengan cara hidup kita . Kita ingin dirajai oleh ilmu pengetahuan dan tehnologi dan beranggapan bahwa hidup tidak dapat lagi dilanjutkan tanpa tehnologi itu. Kita juga terkadang dirajai oleh diri kita sendiri sehingga tidak mengakui penyertaan Tuhan dalam sejarah kehidupan itu. Tidak cukup hanya dengan mulut yang mengucap syukur, atau dengan kata-kata semata, melainkan dengan seluruh hidup kita yang mau berpegang pada firman Tuhan. Kita mau dirajai, dikuasai dikendalikan dan tunduk kepada kehendak Tuhan. Sifat Tunduk itu dinyatakan Yesus ketika hendak menghadapi penyaliban. Yesus mengatakan dalam doanya “...Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki." (Matius 26:39). Hanya dengan hidup seperti Kristus, kita mengakui bahwa Allah itu kudus dan Mahabesar. Apalah arti sebuah pengakuan yang tidak dibarengi dengan perilaku dalam keseharian. Amin.

Selasa, 24 Maret 2009

Allah Tempat Perlindungan

Pdt.Gunawan Panjaitan.STh.MSi

Mazmur 43:1-5

1.Allah memberikan kepada manusia kemampuan untuk menghibur diri sendiri atau kemampuan untuk menyelesaikan masalah sendiri. Kemampuan itu dapat aktif dipergukanakan apabila hidup sehari-hari mempunyai hubungan baik dengan Tuhan. Biasanya, seseorang yang menghadapi permalasahan hidup diibaratkan seperti meghadapi sebuah tembok yang menghalagi perjalanan. Dia akan merasakan betapa sempitnya dunia ini dan berpikir tidak adalagi alternatif jalan keluar. Pemazmur meggambarkan perasaan demikian ketika dia berperkara dengan kaum yang tidak saleh, penipu dan orang curang. Dia merasa para musuh ini sudah berhasil menyudutkan dirinya dan menghadapkannya ke tembok sehingga tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Tetapi keadaan itu tidak dihadapi dengan keputus asaan, tetapi mengasah kemampuan diri yang diberikan Tuhan untuk menghadapi masalah. Dalam perenungan diri sendiri dia bertanya kepada dirinya: Mengapa aku harus hidup berkabung di bawah impitan musuh?


2.Pemazmur menunjukkan kemandirian hidup. Dia dapat keluar dari lingkaran kemelut dengan cara mengarahkan diri kepada Tuhan. Perkabungan tidak menutupi imannya atau mematikan harapannya. Dia berseru kepada Tuhan dan berbicara kepada diri sendiri dengan mengatakan “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Pemazmur melihat betapa banyak lagi jalan untuk berhasil dan betapa terbukanya peluang bersama Tuhan. Pengalaman pemazmur ini melahirkan pengakuan iman akan:
a. Allah sebagai Advokad di mana kita adalah kliennya. Allah melakukan pembelaan dalam perkara kita sehingga kita menang terhadap kamum penipu yang tidak saleh. Iman seperti ini mendorong kita untuk menguasai emosi sehingga tidak melakukan pembalasan terhadap kejahatan. Paulus mengatakan “Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan” (Roma 12 :19)

b.Allah tempat Pengungsian (tempat suaka) di mana kita mendapat perlindungan dan jaminan keamanan. Kita terhindar dari tempat yang menekan dan mengancam kehidupan kita.

c.Allah menyediakan tujuan akhir hidup kita yaitu diam di rumah Tuhan di mana ada persekutuan, pujian dan sukacita yang abadi (Maz 23:6).

3.Pengalaman iman pemazmur ini menjadi penghiburan bagi setiap pribadi yang mengalami permasalahan hidup. Permasalahan hidup itu tidak dapat dihindarkan namun harus dihadapi bersama Tuhan. Kita mengarahkan diri kepada Tuhan ketika kemelut menghadang dan doa adalah memohon kepada Allah agar Dia segera membela kta dalam permasalahan kita. Judika Amin.

Menghadapi Penolakan

Pdt.G.Panjaitan.STh.MSi

Yohanes 10:38-42

1.Kepercayaan adalah menjadi modal sosial yang sangat berharga. Kepercayaan dapat menjadi pengikat antar anggota masyarakat yang bekerja sama membangun sebuah cita-cita. Kepercayaan berkorelasi dengan tindakan atau perbuatan Semakin sesuai pekerjaan dengan perkataan maka kepercayaan akan semakin tingi. Ketika Yesus melayani di dunia ini, Dia memanfaatkan kekuatan perkataanNya dan perbuatanNya. Ia megajar dengan penuh wibawa dan kuas, kata-katanya menghibur, menggerakkan hati dan memulihkan pemahaman. Lukas mencatat tanggapan orang terhadap Yesus: “Dan semua orang takjub, lalu berkata seorang kepada yang lain, katanya: "Alangkah hebatnya perkataan ini! Sebab dengan penuh wibawa dan kuasa” (Luk 4:36). Yesus juga melayani dengan tindakan nyata, dia mengulurkan tangan, melangkahkan kaki, Dia hidup bersama dengan umat, merasakan apa yang dirasakan orang yang menderita. Perasaannya selalu tergerak oleh belas kasihan ketika melihat penderitaan manusia sehingga banyak mukjizat dihadirkanNya. Berbagai pengajaran, pendampingan, pemberdayaan dan mukjizat Yesus bermaksud menyatakan identitas-Nya sebagai Putra Allah, Juru Selamat, Mesia yang telah datang untuk memberi hidup-Nya demi menebus dosa dunia. Yesus mengatakan “pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan dalam nama Bapa-Ku, itulah yang memberikan kesaksian tentang Aku”(Yoh 10:25).


2. Namun, orang-orang yang telah melihat berbagai mukjizat Yesus tidak mau percaya bahwa Yesus adalah Mesias. Mereka siap membunuh Yesus karena mengaku bahwa Dialah Allah (Yoh 10: 30,31). “Sekali lagi mereka mencoba menangkap Dia, tetapi Ia luput dari tangan mereka” ( Yoh 10:39). Yesus berkata kepada mereka, “Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan [mukjizat-mukjizat] itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa” (ayat 37,38). Ternyata sangat susah membangun kepercayaan sekalipun mereka sudah melihat bukti yang kasat mata. Mungkinkah orang banyak menduga bahwa Yesus hanya melakukan tipuan dengan mukjizatNya itu, atau hanya sebuah sihir?

3.Sekalipun Yesus mengalami penolakan, namun dia luput dari tangan penjahat. Ada kemampuan pada Yesus untuk menghindar supaya tidak tertangkap dan disentuh tangan-tangan jahat. Yesus tidak membiarkan dirinya diperlakukan semena-mena. Bila pada suatu ketika Yesus ditangkap, semuanya itu adalah atas kehendakNya untuk penbusan dosa manusia Dia tidak menghadapi penolakan dengan kekerasan, tetapi Yesus melakukan “retreat”: Kemudian Yesus pergi lagi ke seberang Yordan, ke tempat Yohanes membaptis dahulu, lalu Ia tinggal di situ.(ay 39). Semua tindakan ini menunjukkan bahwa Yesus tidak pernah lepas kontrol, bertindak emosional, dia perduli keamanan dan keselamatan. Yesus pergi ke tempat awal memulai pelayanan, tempat dimana Allah menyatakan kepadaNya “inilah Anak yang aku kasihi, kepadanyalah Aku berkenan”. Meghadapi penolakan, tantangankehidupan dapat kita lakukan dengan melakukan “jiarah pengenalan diri” merenungkan kembali tujuan kehidupan kita dan kesiapaan kita.

4.Yesus teladan bagi kita ketika mengalami penolakan. Perbuatan baik, perkataan yang baik tidak otomatis membuat kita menjadi diterima semua orang. Penolakan hendaknya tidak membuat kita berhenti melakukan hal yang baik. Hati kita disiapkan oleh Tuhan menerima simpati dan penolakan. Kita dapat merobah arah dan tempat pelayanan bila ada penolakan disatu tempat. Kita bisa menyingkir untuk mempertahankan perbuatan baik itu. Kita percaya Allah melindungi kita sehingga kita mengalami seperti yang dialami Yesus: Sekali lagi mereka mencoba menangkap Dia, tetapi Ia luput dari tangan mereka.” “Jesus is the untouchable” dan orang-orang percaya juga demikian. Tangan Tuhan lebih kuat, lebih panjang, lebih besar menjangkau kita dari tangan-tangan orang yang mau mencelakai kita. Amin.

Selasa, 17 Maret 2009

MENGARAHKAN DIRI PADA PANGGILAN SORGAWI

Pdt.G.Panjaitan.STh.MSi

Filipi 3:13-16
1. Kita tidak mempunyai kuasa untuk merobah masa lalu, masa lalu biarlah berlalu. Hidup manusia sekarang ini memang hasil dari proses panjang masa lalu, tetapi janganlah kehidupan ini terus membawa beban masa lalu. Ada hal-hal yang dapat ditanggalkan dan ditinggalkan. Paulus menyikapi masa lalunya dengan berpikiran bahwa jauh lebih besar hari-hari yang akan datang dari pada masa lalu. Paulus mengatakan “aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku .Paulus mempunyai masa lalu sebagai “penentang yang kerasa Yesus Kristus”. Masa lalunya adalah orang yang “memasukkan banyak orang kudus ke dalam penjara, menyiksa, memaksanya untuk menyangkal imannya, mengejar" (Kis 26:10-11). Berdasarkan masalalunya, Paulus sangat terbuka untuk dicurigai akan kesetiaannya sebagi orang Kristen. Namun dia menganggap masalalu itu “skubala” (ampas) yang tidak layak untuk diperhatikan dan dibicarakan kembali. Dia sangat komit untuk melupakan kesalahan masalalu. Sama seperti Paulus, setiap kita mungkin mempunyai masa lalu yang bisa saja memalukan dan mengecewakan orang-orang yang kita cintai: suami, istri, anak-anak atau diri kita sendiri. Firman Tuhan hari ini memerintahkan kita untuk menghentikan beban masa lalu dan Tuhan menginginkan kita mengarahkan hidup kita kepada masa depan masa yang penuh rahmat Tuhan.



2. Tuhan menginginkan supaya kita tidak menaruh dendam dalam hati. Mungkin kita pernah diperlakukan tidak adil, dihina, dipermalukan oleh orang lain. Secara natural kita selalu terdorong untuk membalasnya. Tuhan menginginkan kita untuk mengarahkan pandangan terhadap Tuhan (okuli). Semua masalalu jangan sampai memperlambat perlombaan kita meraih hadiah panggilan sorgawi. Palus dalam ungkapan yang berbeda menganjurkan hal itu dengan dengan mengatakan “ Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikia” (Kol 3:13) Paulus menyebutkan cara berpikir demikian adalah cara berpikir yang sempurna dan cara pandang yang selalu terarah kepada panggilan sorgawi. Amin

Rabu, 04 Maret 2009

PESTA KEBANGUNAN ROHANI SEKOLAH MINGGU HKBP MANYAR

Pdt.G.Panjaitan.STH.MSi

Sekolah Minggu adalah angota jemaat yang harus dilayani dengan baik sebagai anggota kerajaan Allah. Mereka membutuhkan kasih sayang yang tapak melalui pemberian fasilitas, perhatian, dan pengajaran yang baik tentang firman Tuhan. Sekolah minggu ini nantinya yang menjadi para pengurus gereja kaum ibu dan kaum bapak dan pewaris gereja HKBP. Hal itu disampaikan Pendeta HKBP Ressort Manyar Pdt.Gunawan Panjaitan STh,MSi , dalam khotbahnya pada Acara Kebangunan Rohani atau Parheheoan Sekolah Minggu HKBP Manyar , Minggu (1/3) di Gereja HKBP Manyar.
Kebangkitan rohani ini diharapkan menjadi momen untuk meningkatkan pelayanan sekolah minggu di HKBP Manyar . Tugas itu tidaklah diserahkan hanya kepada Guru Sekolah Minggu, para pemuda yang kebetulan Kuliah diberbagai Universitas di sekitar Gereja tetapi harus diembankan kepada semua anggota jemaat sebagai bentuk pembangunan tubuh Kristus. Dengan demikian HKBP dalam menjalankan tugasnya akan menjadi berkat bagi anak-anak .






Para Sekolah Minggu dengan ceriah manortor bersama dengan gerakan yang lincah. Orang tua memberikan "olopolop" untuk menunjukkan cinta kasihnya kepada Sekolah Minggu.



Dengan Tenangnya Para pemenang Lomba Mewarnai menunjukkan karyanya dan menerima hadiah. Dari Kanan pemenang terbaik pertama dst.



Pemenang Lomba menggambar menerima Piala dan hadiah yang disediakan Panitia

Pesta parheheon Sekolah minggu ini berlangsung dua hari yaitu tanggal 28 Pebruari 2009 dengan acara perlombaan mewarnai, menggambar dan pentas pujian SKM Manyar. Acara berlangsung meriah yang dihadiri para orang tua anak. Hari Kedua berisikan ibadah bersama dengan orang tua pada Minggu Siang dan pesta pengumpulan dana untuk kebutuhan sekolah minggu serta makan bersama.
Acara itu berthema “mengasihi sesama” ( Matius 22:39) yang diwujudkan dalam lukisan, gambar dan nyanyian. Kelompok Kategorial Kaum Bapak, Ibu dan NHKBP ikut memeriahkan dengan "manortor" dan memberikan sumbangan dana untuk pembinaan Sekolah Minggu. Di penghujung acara panitia pesta menyerahan hadiah bagi pemenang untuk setiap lomba serta kenangkenangan untuk semua anak sekolah minggu.

"Sekolah minggu dahulu adalah kita orang tua sekarang dan sekolah minggu sekarang adalah anak-anak kita saat ini, mari kita cintai mereka dan kita pandu dalam pertumbuhan jasmani dan rohaninya". demikian Pendeta Ressort Manyar mengakhiri ucapan terimakasihnya atas partisipasi semua anggota jemaat.




MENGUCAP SYUKUR ATAS HIKMAT ALLAH

Ayub 28:20-28

Pdt.Gunawan Panjaitan.STh.MSi

Hikmat berbeda dengan intelektual. Intelektual adalah kecerdasan yang dimiliki seseorang karena ada proses belajar dan meneliti berbagai ilmu pengetahuan. Sedangkan hikmat adalah kemampuan manusia untuk mencari yang benar, yang tepat dan paling akhir. Hikmat juga adalah kemampuan untuk memisahkan yang baik dari yang tidak baik yang didasaran pada pemahaman dan ilmu pengetahuan, sehingga dapat dinyatakan dalam tindakan. Hikmat dipercaya pemberian Tuhan. Banyak orang dalam sejarah yang disebut cerdasa dan intelek teapi tidak berhikmat, misalnya Pontius Pilatus yang megadili Yesus, atau Adolf Hitler pemimpin Nazi atau Saddam Husein pemimpin Irak. Mereka cerdas tetapi tidak berhikmat, karena menurut standarnya orang berhikmat adalah seperti dalam Ayub 28:20 “takut akan Tuhan, itulah hikmat, dan menjauhi kejahatan itulah akal budi."


Hilmat itu berasal dari Allah, dan untuk mendapatkannya kita hendaknya bersahabat dengan Allah melalui firmanNya. Hikmat tidak dapat diperoleh dengan kekayaan material dan harta benda (Ayub 28:15-19), Hikmat juga tidak datang dari roh – roh lain (ay 23). Ayub mengetahui apa yang sudah terjadi dalam hidupnya hanya dapat dimengerti oleh hikmat yang dari Allah sehingga tidak ada alasan untuk menggurui Allah atau menyalahkan atas tindakanNya. Ayub mengatakan : Tetapi pada Allahlah hikmat dan kekuatan, Dialah yang mempunyai pertimbangan dan pengertian (Ayub 12:13). Dalam 1 Raja 4:29 kita juga menemukan bahwa “Allah memberikan kepada Salomo hikmat dan pengertian yang amat besar, serta akal yang luas seperti dataran pasir di tepi laut”. Bila hikmat berasal dari Allah, maka apakah yang perlu kita nyatakan dalam kehidupan kita sehari-hari?

Ayub menyatakan bahwa “Takut akan Tuhan “ itulah cirri-ciri dari orang yang berhikmat. Pernyataan seperti ini tidak hanya diungkapkan Ayub, tetapi Mazmur dan Amsal (Maz 111:10; Amsal 1:7). Bila kita ingin berhikmat kita harus takut pada Allah. Kita takut karena Allah akan menghukum orang berdosa. Bila kita masih takut akan hukuman Allah maka kita akan terdorong, bersemangat untuk mentaati pertintahNya. Kita akan lebih hati-hati dalam melangkah, mengambil keputusan dan mengucapkan sesuatu. Takut itu bukan menjauhkan diri tetapi membuat kita menghormati dan melakukan apa yang diperintahkan Allah.

Dalam Amsal 31:26 kita temukan bagaimana perempuan berhikmat : “Ia membuka mulutnya dengan hikmat, pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya.” Perempuan berhikmat pertama sekali diukur dari apa yang diucapkannya. Ada kata-kata bijak berbunyi ”jika tidak bisa berkata sesuatu yang baik, jangan berkata apapun”. Perempuan berhikmat itu hendaklah berbicara tetapi , bukanlah berarti bawel dan cerewet sepanjang hari. Juga bukan berarti harus menang bicara dalam dalam setiap perdebatan. Sifat manusia adalah sering sulit untuk mengalah kalau merasa diri kita benar. Kita selalu berusaha membuktikan bahwa kita benar malahan kita berlaku salah- sikap yang salah, perkataan yang salah, pikiran yang salah, motivasi yang salah dan karakter yang salah, ketika mempertahankan kebenran kita. Wanita amsal 31:26 tidaklah demikian. Itulah mengapa perkataannya lembut, bijaksana dan penuh rasa simpati. Ia tahu kata-katanya adalah suatu hadiah—untuk memberikan nasehat dan arahan. Ia tahu ada waktunya untuk diam dan ada waktunya untuk berbicara. (Pengkotbah 3:7) Ia tahu kebijaksanaan untuk cepat mendengar dan lambat berkata-kata. (Yakobus 1:19). Ia menjadikan perkataannya mata air kehidupan. (Amsal 10:1). Marilah kita mengambil waktu untuk kehidupan rohani kita supaya semakin berhikmat. Kita menyuskuri Himat Allah yang diberikan kepada kita karena hikmat yang dari Allah melampaui kemampuan intelektual kita. Kita menjaga nyala hikmat itu dengan persekutuan, pujian dan ucapan syukur kepada Allah.
Amin.


MELAYANI TUHAN ATAU DIRI SENDIRI?

Yunus 4:1-11

Oleh: Pdt.Gunawan Panjaitan.STh

Perbedaan antara melayani Tuhan dan melayani diri sendiri sangatlah tipis. Kita bisa saja memakai alasan melayani Tuhan, tetapi sebenarnya kita tengah melayani kepentingan dan kepuasan diri sendiri. Salah satu cara untuk menguji hal tersebut adalah dengan melihat respons yang kita berikan tatkala pelayanan kita tidak dihargai oleh orang lain, atau tatkala pendapat dan keinginan kita dalam pelayanan tidak diterima. Apabila respons kita adalah marah, bahkan sampai mengundurkan diri dari pelayanan, itu berarti kita tidak sedang melayani Tuhan tetapi melayani diri sendiri.

Yunus adalah Nabi yang marah tatkala melihat bahwa apa yang Tuhan lakukan ternyata tidak sesuai dengan keinginan dirinya (ayat 1). Yunus kecewa ketika Tuhan mau mengampuni Niniwe, musuh besar bangsa Israel ketika itu. Yunus sedih setelah berhasil menjadi hamba yang melakukan pertobatan besar. Dia dipenuhi kemarahan yang tidak dapat hilang. Akan tetapi, Tuhan tidak membiarkan Yunus terus menerus larut dalam kemarahannya.


Muatan kisah dalam kitab Yunus ini memberikan pengajaran tentang bahwa Allah untuk semua bangsa, dia tidak terikat oleh apapapun dan tidak terbelenggu oleh sebuah pemikiran manusia yang sempit. Allah berkuasa mutlak atas ciptaanya dan mahapenyayang serta mahapengampun.

Suasana hati Yunus digambarkan dengan sebutan “Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus… “ Kata mengesalkan di sini berarti “melihat sebagai kejahatan”. Yunus sebenarnya memandang penyelamatan Allah terhadap Niniwe adalah salah! “… lalu marahlah ia.” Kata marah berarti “membakar”. Allah dengan penuh kasih telah reda dari murka-Nya, tetapi kemarahan Yunus kepada Allah menjadi tak terbendung. Mengapa dia marah ? Karena penghakiman telah dihapuskan, dan itu adalah penghakiman yang Yunus begitu ingin saksikan terjadi! Yunus telah melakukan apa yang Allah ingin dia lakukan – untuk pergi dan memberitakan – tetapi Allah tidak melakukan apa yang Yunus inginkan – untuk menghancurkan Niniwe. Yunus begitu marah pada Allah karena memberikan belas kasihan dan dia merasa dikhianati karena Dia telah mengampuni Niniwe yang dibenci. Dalam doanya, Yusnus membela dirinya bahwa dialah yang benar. Pembrontakannya dulu melarikan diri dari panggila Tuhan adalah satu usaha untuk tidak terlibat pada tindakan Allah yang tidak konsisten. Yunus menyesali kenyataan bahwa Allah adalah : pengasih, penyayang, penyabar, berlimpah kasih setia dan yang menyesal karena malapetaka. Yunus begitu pahit hati dan marah pada Allah sehingga dia hanya ingin mati, Dia menolak untuk menerima kehendak Allah karena kebencian dirinya kepada orang Niniwe. Kehendak pribadinya mencengkeram pikirannya begitu kuat.

Allah menantang Yunus dengan mengatakan : "Layakkah engkau marah?" Allah tidak akan membiarkan persoalan ini tidak terselesaikan, jadi Dia menantang Yunus tentang kemarahannya . Yunus dalam kemarahnnya hanya peduli pada dirinya sendiri. Dia kemudian membuat sebuah naungan dimana dia dapat duduk dan melihat kota. Keegoisannya yang menyedihkan itu telah membuatnya menjadi orang yang tertutup dan pahit hati dan tanpa perubahan hati. Ia mendririkan sebuah pohon jarak. Pohon ini tumbuhan yang tumbuh dengan cepat dengan daun yang lebar. Pertumbuhan pohon itu mengakibatkan untuk pertama kalinya dalam keseluruhan kisah, Yunus “sangat bersukacita”. Tetapi ini hanya karena dia mendapat keuntungan dari pohon tersebut.
Dalam suasana hati yang bersuka cita Allah menunjukkan dua karakteristik yang berlawanan dari sifat Allah – kemampuan-Nya untuk menyelamatkan dan menghancurkan. Tujuan dari ulat tersebut adalah untuk menghancurkan tumbuhan itu sehingga Yunus sekali lagi dapat terlihat. Segera sesudah matahari terbit, maka atas penentuan Allah bertiuplah angin timur yang panas terik (ay. 8a) Allah dengan supernatural menyingkirkan tempat persembunyian Yunus. Tetapi tragisnya, Yunus masih melihat kematian sebagai pilihannya dibanding menyerahkan diri pada Allah.
Yunus masih belum mengerti. Di situ dia duduk, dibawah dahan yang kering, tidak bersemangat, pahit, penuh dendam – sebuah potret tragis dalam mengasihani diri sendiri. Dia masih membela dirinya sendiri dan tidak menghargai hidup lagi. Dia melihat sangat tidak masuk akal bagi tindakan Allah terhadap Niniwe atau terhadap tumbuhan tersebut, sehingga dia memutuskan bahwa jika Allah hendak bertindak dengan cara ini, dia pun lebih baik mati.

Lalu Allah berfirman: "Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikitpun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula. Allah menaruh kelakuan Yunus dalam perspektif : Dia mengasihi sebuah tanaman yang tidak berharga, tetapi membenci kehidupan manusia dan hidup yang kekal. Dia menunjukkan belas kasihan buat satu elemen kecil dari ciptaan Allah tetapi tidak mempunyai kasih buat seluruh kota yang sedang berhadapan dengan penghakiman kekal.
Yunus butuh untuk melihat bahwa belas kasihan buat sebuah tanaman adalah tidak ada harganya, tetapi belas kasihan buat sebuah kota dengan lebih dari 120,000 anak-anak kecil memiliki nilai yang abadi. Jika Yunus tidak dapat mengasihani penduduk kota tersebut, pastilah dia dapat mengasihani anak-anak kecil dan ternaknya – yang minimal dapat terlihat tidak berdosa sama seperti tumbuhan tersebut! Di tengah pertobatan ini, Yunus masih kehilangan kebesaran dari kasih dan karunia Allah

Kita terpanggil untukmempertajam pelayanan kita apakah itu untuk kepentingan jemaat atau hanya kepentingan diri kita sendiri. Kemampuan merobah sudut pandang yang hanya mementunkan diri sendiri akan member pelayanan yang terbuka pada perubahan yang lebih baik. Amin


Senin, 16 Februari 2009

PERCAKAPKANLAH PERBUATANNYA YANG AJAIB

Roma 10:13-21

Pdt.Gunawan Panjaitan.MSi

1.Iman Kristen bersifat universal (hatopan) terbuka bagi siapa saja dalam keadaan status apapun. Pokok pikiran itu diajarkan Paulus dengan mengatakan “barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan”. Kata “barang siapa” (everyone) menunjukkan makna universal iman Kristen, sebab “barang siapa” itu adalah Yahudi, Yunani, semua bangsa atau etnis ,kaya atau miskin, besar atau kecil, di kota atau di desa, yang mulia atau yang hina, yang elite atau yang bersahaja dst, semuanya adalah sama bila berseru kepada Tuhan akan diselamatkan. Konsep ini membuka pikiran orang Yahudi tentang kefanatikan mereka di era Perjanjian Lama yang mengikrarkan bahwa di luar Israel itu bangsa kafir. Firman ini juga mengajarkan bahwa Allah juga memilih orang-orang dari bangsa lain untuk diselamatkan di dalam Kristus. Sekalipun demikian kita jangan merasa sombong dengan keselamatan yang kita miliki (bdk Roma 11) tetapi hendaknya mendorong kita untuk semakin rajin memberitakan Injil. Kedaulatan Allah hendaknya disertai dengan tanggung jawab manusia melakukan penginjilan.

2.Universalitas karya Allah adalah bahwa Kristus itu adalah Tuhan bagi semua orang (umat pilihan-Nya) tanpa pandang bulu. Hal ini mengandung unsur kekekalan di dalam kemurahan hati-Nya dan bersifat aktif, bukan pasif. Kemurahan hati itu ditunjukkan kepada barang siapa yang berseru, atau memanggil namanya. Memanggil nama Tuhan bukanlah hal yang gampang pada masa kekaisaran Romawi. Berseru kepada Tuhan pada masa Kekaisaran Romawi itu berarti “maut”. Waktu itu orang-orang Kristen dianiaya dengan ancaman bahwa jika mereka menyebut nama Allah selain Kaisar sebagai “tuhan”, mereka akan mati. Dengan kata lain, Paulus ingin menguatkan iman orang Kristen di Roma bahwa meskipun mereka harus mati karena menyebut dan berseru kepada-Nya, mereka akan tetap diselamatkan. Sebuah keadaan yang sangat berbeda dengan kita sekarang di mana aman saja berseru kepada Tuhan.

3. Berbicara itu berlian (speak is diamon) itulah nilai yang diberikan kepada orang yang berseru dan menceritakan firman Tuhan. Orang yang “berseru kepada nama Tuhan” yaitu mereka yang mengaku dengan mulut (tidak diam saja) dan percaya dalam hati di dalam kebangkitan Kristus. Jadi, ketika seseorang “berseru kepada nama Tuhan” berarti orang tersebut tidak berseru dengan seruan yang kosong, tetapi dengan seruan yang berisi iman dan pengharapan kepada janji-janji Allah di dalam keselamatan di dalam Kristus. Tetapi apakah cukup hanya berseru saja? Tidak!. Di ayat 14 dan 15, Paulus menyampaikan suatu urutan yang jelas dari belakang (berseru kepada-Nya) sampai ke depan/inti, yaitu pengutusan pemberitaan Injil (“diutus”—ayat 15). Mari kita simak satu per satu.
Paulus mengatakan bahwa seseorang bisa berseru kepada-Nya, bila ia percaya. Tanpa seseorang percaya, tak mungkin ada kerinduan hati untuk datang kepada-Nya dan berseru. Masalah yang terjadi pada orang-orang Yahudi adalah mereka terlalu banyak “berseru” kepada-Nya bukan merupakan luapan dari iman mereka, tetapi karena mereka bersungut-sungut. Bagaimana dengan kita? Ketika kita berseru, apakah seruan kita keluar dari luapan iman kita yang bersandar dan berharap total kepada Allah ataukah seruan kita menjadi seruan kosong dan emosional atau yang lebih parah lagi, seruan kita adalah seruan bersungut-sungut seperti bangsa Israel dahulu?
Paulus melanjutkan urutannya, yaitu bagaimana seseorang bisa percaya kepada-Nya jika ia tidak mendengar tentang Dia. Di sini, ada kaitan antara mendengar Kristus dan percaya kepada-Nya. Ketika seseorang mendengar Firman Kristus, dari situlah timbullah iman sejati (Rm. 10:17). Mengapa Paulus menggunakan kata “mendengar” bukan melihat atau merasakan atau meraba? Karena “melihat” dan “merasakan”/“meraba” lebih bersifat menyesatkan karena itu bersifat fenomenal, sedangkan mendengar meskipun bisa menyesatkan, tetapi intensitasnya kecil, mengapa? Karena ketika kita mendengar, kita mengolah di dalam pikiran terlebih dahulu, sedangkan ketika kita melihat atau merasakan sesuatu, kita hampir tidak pernah memasukkannya ke dalam pikiran. Kita bisa terpukau karena kita melihat atau merasakan, tetapi ketika kita mendengar, kita dituntut untuk aktif. Dan yang unik, kata “mendengar” dalam ayat ini di dalam struktur bahasa Yunani menggunakan bentuk aktif (bukan pasif). Berarti, kita aktif mendengar Firman Tuhan, dan pada saat itu Roh Kudus bekerja mencerahkan hati dan pikiran kita sehingga kita percaya dan bertobat. Bagaimana dengan kita? Seberapa sering dan rindunya kita terus mendengar kebenaran Firman Tuhan? Apakah kita sudah cukup puas jika kita sudah belajar theology atau berdikusi tentang firman itu? Kita diajak belajar terus dengan mendengarkan pendalaman kebenaran Firman Tuhan.
Paulus melanjutkan bahwa bagaimana seseorang bisa mendengar tentang Kristus jika tidak ada orang yang memberitakan-Nya. Di sini, satu langkah lebih dalam lagi, yaitu orang bisa mendengar Injil jika ada orang yang memberitakan Injil Kristus. Jika ada “Orang yang memberitakan-Nya” (preacher) yang bertujuan untuk membawa orang-orang yang tersesat kembali kepada Kebenaran Allah di dalam Kristus. Paulus memberikan inti permasalahannya yaitu bagaimana mereka bisa memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus. Kata “diutus” dalam Yunani: apostellō berarti set apart (=dipisahkan). Kristus mengutus kita untuk menjadi saksi-Nya dengan cara memisahkan kita terlebih dahulu dari dunia dan segala konsepnya yang berdosa. Menjadi saksi Kristus berarti menjadi terpisah dari semua konsep dunia berdosa (Roma 12:2).

4.Allah tidak pernah memaksakan orang untuk percaya, melainkan memberikan kehendak bebas untuk percaya atau tidak. Sejarah pekabaran injil sejak jaman Perjanjianlam menunjukkan bahwa penolakan akan pemberitaan Firman Tuhan selalu terjadi. Penolakan bangsa Israel bisa menjadi berkat bagi bangsa lain. Sangat penting kita sadari ini, penolakan yang kita lakukan untuk mengerjakan pelayanan bisa menjadi peluang berkat bagi orang lain sehingga kita tidak kebagian berkatnya lagi.

REMAJA DAN NHKBP RAYAKAN VALENTINE DAY

Pdt.G.Panjaitan.MSi

Remaja dan NHKBP Manyar Surabaya merayakan "Valentine Day" (hari kasih sayang) yang diperingati setiap 14 Februari. Perayaan ini diadakan dalam kesederhanaan, tanpa simbol-simbol valentine dan tanpa tukar kado dan coklat. Perayaan dilaksanakan di Gedung Serbaguna dengan mengadakan Penelahan Alkitab yang membahas tentang “Kasih Abadi”. "Hampir setiap perayaan valentine kami melakukan kegiatan yang sama dalam suasana keceriahan” demikian kata pengurus NHKBP. Ada 37 orang pemuda dan remaja yang menghadiri perayaan tersebut sekalipun hujan waktu itu sangat deras mengguyur kota Surabaya.



Seperti kita ketahui bersama peringatan “Valentine day” memang datang dari Barat. Ini dirayakan sebagai suatu perwujudan cinta kasih seseorang. Perwujudan yang bukan hanya untuk sepasang muda-mudi yang sedang jatuh cinta. Namun, ini memiliki makna yang lebih luas lagi. Di antaranya kasih antara sesama, pasangan suami-istri, orang tua-anak, kakak-adik dan lainnya. Pdt.David Silaban.STh yang menyajikan renungan didasarkan pada 1 Kor 13:1-13, mengatakan bahwa kasih sayang seifatnya kekal dan kasih sayang itulah yang membuat segala sesuatunya berarti dan bermakna. Pemberian tanpa kasih adalah sebuah umpan yang menjerat, demikian penjelasan pendeta tersebut.



Sukacita perayaan semakin bertambah karena bertepatan pada pada hari Valentine, Pdt.G.Panjaitan.MSI merayakan ulang tahunnya. Bingkisan yang terindah diberikan para Pemuda dan Remaja dengan menyanyikan lagu “selamat ulang tahun” dan memberikan ucapan selamat.
“Valentine day” yang kita rayakan ini akan semakin bermakna jika dalam menjalin cinta kasih kita mau memberi, paling sedikit memberI senyuman pada orang lain disaat yang tepat dan menyatakan cinta kasih itu dalam tatakrama, sopan santun dan beraturan”. Demikian Pdt.G.Panjaitan, merespon ucapan selamat dari pemuda dan remaja HKBP Manyar.


RNHKBP

VALENTINE DAY
Remaja dan NHKBP Manyar Surabaya merayakan "Valentine Day" (hari kasih sayang) yang diperingati setiap 14 Februari. Perayaan ini diadakan dalam kesederhanaan, tanpa simbolsimbol valentine dan tanpa tukar kado dan coklat. Perayaan dilaksanakan dengan mengadakan Penelahan Alkitab yang membahas tentang “Kasih Abadi”. "Hampir setiap perayaan valentine kami melakukan kegiatan yang sama dalam suasana keceriahan” demikian kata pengurus NHKBP. Ada 37 orang pemuda dan remaja yang menghadiri perayaan tersebut sekalipun hujan waktu itu sangat deras mengguyur kota Surabaya.




Kamis, 12 Februari 2009

JENIS LAHAN MANAKAH AKU ?

Renungan Minggu
Lukas 8:9-15
Pdt.Gunawan Panjaitan.MSi

Jenis lahan seperti apakah aku? Itulah pertanyaan yang mungkin muncul setelah mendengar perumpamaan Tuhan Yesus ini. Tentu kita lebih senang apabila dipahami orang lain dan kita pahami diri kita sendiri sebagai jenis lahan keempat yaitu tanah yang baik dan yang subur yang sudah diolah (Luk 8:8,15). Kita mungkin tidak senang apabila di cap seperti lahan pertama “pinggir jalan”: yaitu pribadi yang mau mendengar firman Tuhan tetapi ketika dia mengalami ketersinggungan, digosipi atau dipermalukan dia langsung melupakan firman (Luk 8:11-12). Kita juga tidak mau disebut lahan kedua “tanah yang berbatu” yaitu orang yang datang ke gereja dengan bersemangat, antusias dan bersuka cita tetapi imannya tetap dangkal . Dia hanya memahami firman itu sebatas brain dan emosional saja. Dia tidak pernah memaknai kedalaman firman Tuhan dalam hidupnya. Ketika suasana yang membuat senang dan gembira itu berubah dan tidak sesuai dengan pikirannya maka dia melupakan firman itu (Luk 8:6,13). Kita juga tidak mau disebut lahan ketiga “tanah semak duri” yaitu orang yang mendengar firman itu tetapi hidupnya selalu gelisah dan kebingungan. Dia tidak pernah menyerahkan hidupnya secara total untuk dibimbing dan dipelihara oleh Tuhan. Dia kompromistis dengan kenikmatan dunia, plinplan dan kanan kiri oke. (Luk 8:7,14).

Tuhan menginginkan kita seperti lahan tanah yang baik dan yang subur yang sudah diolah yaitu orang yang mendengar firman itu kemudian mengaplikasikannya dalam hidupnya. Dia menghasilkan buah-buah rohani yang dapat dinikmati oleh orang lain. Didalam dirinya firman itu berakar dan itu dia peroleh dari kemampuan mendengar yang baik. Dia mendengar tidak hanya dengan telinga, tetapi juga dengan mata, hati, pikiran, dan tindakan. Pendengar firman Tuhan yang berbahagia adalah orang yang hatinya dapat diubah. Marilah kita menjadi lahan yang baik untuk tempat suburnya firman Tuhan dengan memiliki kerinduan untuk berubah dan dikuasai oleh Tuhan, merelakan hati kita diolah dan “dibajak” oleh Petani Agung, Roh Kudus itu sendiri, memberikan hati kita pada kasih ALLAH dan hidup kita selalu berbuah. Amin

MUTASI PENDETA HKBP RESSORT MANYAR

Praeses HKBP Distrik XVII Indonesia Bagian Timur Pdt.P.S.H.Nainggolan mengukuhkan Pdt.Gunawan Panjaitan,STh.MSi menjadi Pendeta Ressort di HKBP Ressort Manyar . Pengukuhan itu dilaksanakan pada acara ibadah Minggu Septuagesima, tanggal 8 Pebruari di HKBP Manyar Surabaya. Ibadah waktu itu dihadiri juga oleh Paduan Suara Masiaminaminan dan Paduan Suara Gloria dari HKBP Surabaya. Pdt.Gunawan Panjaitan sebelumnya melayani di HKBP Surabaya sebagai pendeta pemuda.




Naposo Bulung Memberikan kenangkenangan berupa karikatur Pdt.T.Sitanggang

Menurut Praeses Pdt.P.S.H.Nainggolan mutasi dilakukan dalam rangka penyegaran pelayanan. Pdt.T.Sitanggang.STh, pendeta resort lama sudah melayani di HKBP Manyar selama satu periode (4 tahun) dan beliau dimutasikan ke HKBP Ressort Balikpapan di dalam Distrik yang sama. Praeses meminta supaya dengan mutasi ini para pelayan semakin meningkatkan pelayanan demi pertumbuhan iman jemaat. Biliau juga meminta agar seluruh jemaat dan majelis mendukung pelayanan pendeta resort baru.
Setelah selesai acara pelantikan, Gereja HKBP Ressort Manyar melaksanakan acara pisah sambut pada sore harinya. Pada kesempatan itu semua unsur dalam gereja yaitu jemaat sektor, kelompok kategorial dan majelis menyampaikan ucapan selamat jalan untuk Pdt.T.Sitanggang/ keluarga dan sekaligus menyampaikan ucapan selamat datang dan haparan untuk pendeta resort baru. Acara berlangsung meriah yang berisikan kebaktian , ramah tamah dan sumbangan lagu dan pemberian cendramata untuk mengantar kepergian pendeta yang pindah.
“Mutasi adalah hal yang biasa, tetapi menjadi luar biasa karena mutasi selalu kita percayai panggilan Tuhan untuk memberitakan firmannya sampai ke ujung bumi”. Demikian Praeses dalam arahan pada acara pisah sambut.
Pdt.G.Panjaiatan.MSi

Senin, 26 Januari 2009

Allah : Bapa Penuh Kasih

Pdt.G.Panjaitan.MSi

Nats: Lukas 15:11-24

1.Yesus memerkenalkan kepribadian Allah yang Mahakasih dengan cara yang sederhana dan gampang dipahami. Allah itu diumpamakan Yesus dengan seorang bapa yang royal memberikan cinta kasihnya. Tentu Tuhan Allah jauh lebih dari pada bapa dalam pemahaman. Dia sebagai provider dalam keluarga yang menyediakan segala kebutuhan untuk kelangsungan hidup. Pemahaman akan Allah seperti itu adalah tema sentral Injil Lukas. Yesus menggenapi nubuatan Yesaya: "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin kepada orang-orang tawanan, bagi orang-orang buta, orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang Cinta kasihnya besar” (4:18-19) Allah yang royal cinta kasih itu sampai-sampai tidak memperdulikan dosa yang sudah diperbuat orang yang dikasihi.

2.Perumpamaan ini memberikan pengajaran tentang kepribadian Allah sebagai Bapa dan si Bungsu sebagai manusia berdosa dan mau bertobat: Allah yang adalah Bapa melakukan berbagai tindakan untuk merealisasikan cinta kasihNya:
a.Bapa yang penuh cinta kasih menyediakan harta warisan untuk anak-anaknya. Harta itu tidak hanya berupa material saja tetapi juga warisan spiritual. Bagi Yahudi anak yang paling sulung mempunyai porsi yang lebih banyak warisan dari yang bungsu. Amsal mencatat “Orang baik meninggalkan warisan bagi anak cucunya...” (Amsal 13:22). Yahudi juga mewariskan kepada anak-anaknya iman kepada Yahwe (Ul 6:5-7)
b.Bapa yang penuh cintakasih menghargai hak anak-anaknya untuk memutuskan apa yang terbaik baginya. Allah memberikan manusia “kehendak bebas” memilih jalan mana yang harus dilalui. Kita memilih jalan sesat kita akan menerima ganjarannya. Bila si Bungsu kemudian menjual seluruh bagiannya, memboroskan harta miliknya, hidup berfoya-foya sehingga hidupnya menjadi terhina, hal itu bukanlah kesalahan si bapa. Kita tidak boleh menyalahkan Tuhan, dengan mengatakan “kenapa kita dibiarkanNya menyimpang atau kenapa kita diberikan kehendak bebas?”
c.Bapa yang penuh cinta kasih menjadi imam bagi keluarganya. Ketika si bungsu menyadari keberadaannya (ay 17) dan mempunyai keberanian untuk berbalik dari jalan yang sesat, si bapa bertindak sebagai imam. Dia bersyukur atas pertobatan itu dan dia masih tetap mencintai anaknya. Bapa bertindak seperti seorang imam menuntun anaknya menuju pemulihan physical dan kerohaniannya. Tindakan bapa yang sangat lembut tergambar dari: melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan, berlari mendapatkan, merangkul dan mencium dia. Bersedia berdialog, dan memulihkan statusnya sebagai anak.
d.Bapa yang penuh cinta kasih tidak menghakimi, menghukum dan menyalahkan anaknya tetapi mengampuni dan memberikan peluang untuk memperoleh kehidupan. Dia bersyukur karena anaknya yang sesat itu kembali, dia menghormati sikap anaknya yang bertobat itu dengan merayakannya.

3.Ada proses yang dijalani si Bungsu yang perlu kita pahami untuk menuju kepada pertobatan:
a.Menyadari keadaannya.
Setelah melangkah sangat jauh meninggalkan bapanya, dia menyadari akibatnya terhadap physicalnya: dia lapar, haus, ceper, kehilangan teman/lonely dan harga diri. Ini adalah resiko karena jauh dari rumah bapanya.
b.Membuat ketetapan hati untuk menyelesaikan permasalahannya. Dia berketetapan untuk bangkit menjumpai bapaknya, menyatakan penyeasalan dan bersedia untuk berbalik ke jalan yang benar.
c.Sungguh-sungguh bertobat lebih dari sekedar mengucapkan kata “mohon maaf”: Tepai dia membiarkan dirinya menjadi manusia baru (2 Kor 5;17) dan mengarahkan pikirannya kepada persekutuan dengan Tuhan (Kol 3:2). Si Bungsu ingin tinggal di rumah bapanya, di sana ada perasaan “at home”, mengalami rekonsiliasi dan re-clothing sebagai penyatan pemuliuhan seutuhnya. Ephipanias: Allah Bapa adalah Tuhan yang penuh cinta kasih dan provider: menyediakan nafkah kehidupan bagi orang mau bertobat. Mau ? Mau? Mau?

BILEAM: NABI YANG DITEGUR

Pdt.G.Panjaitan.MSi
Nats: Bilangan 22:21-35
Ada satu perasaan yang sulit kita sembunyikan yaitu perasaan tidak enak apabila ditegur. Walaupun teguran itu biasanya terjadi akibat kesalahan kita sendiri, dan demi kebaikan kita juga, tetapi tetap saja teguran seringkali meninggalkan perasaan tidak nyaman. Misalnya kita ditegur karena selera makan yang berlebih, atau ditegur karena cinta buta pada seseorang, atau ditegur karena terlalu optimis pada cara yang ditempuh. Sekalipun teguran itu dari orang-orang dekat kita tetapi tetap saja menimbulkan perasaan tidak enak. Hal ini masih teguran dari sesama manusia. Bagaimana jika yang menegur bukan manusia, tetapi keledai? Apa rasanya? Sulit kita merasakannya. Mari kita tanya pada Bileam yang mengalami peristiwa yang bagi kita mungkin terasa sangat memalukan.

Pada saat itu Raja Balak mengirim beberapa utusannya menemui Bileam, dengan tujuan menyuruh Bileam mengutuk bangsa Israel. Ketika hal itu disampaikan pada Bileam, Bileam pun meminta waktu untuk bertanya pada Tuhan. Apa kata Tuhan? "Janganlah engkau pergi bersama-sama dengan mereka, janganlah engkau mengutuk bangsa itu, sebab mereka telah diberkati." (Bilangan 22:12). Ini adalah sebuah larangan, dan Bileam pun taat. Tapi kemudian penolakan Bileam disikapi Balak dengan kembali mengutus orang-orang yang lebih banyak dan lebih terhormat, ditambah upah yang jauh lebih besar. Dan Bileam pun awalnya kembali menolak, tapi lihat ini, Bileam kembali mempertanyakan hal yang sama pada Tuhan. (Bilangan 22:15) Meskipun keputusan bertanya pada Tuhan merupakan sebuah bentuk ketaatan, namun ketaatannya tidak penuh. Jika ia taat penuh, seharusnya Bileam tidak perlu bertanya lagi karena sejak awal Tuhan telah menyatakan tidak. Tapi Bileam kembali bertanya dan berharap Tuhan berubah pendirian. Bileam tergiur dengan upah yang besar.
Tuhan tahu isi hati Bileam dan kemudian terpaksa menguji kesetiaannya. Tuhan mengijinkan dia pergi dengan catatan hanya diijinkan untuk melakukan apa yang difirmankan Tuhan. Dan keberangkatan Bileam pun membuat Tuhan marah. Ketika manusia tidak lagi mendengar perintah Tuhan lewat perkataan halus, Tuhan pun memakai sarana lain. Dalam kasus Bileam, Tuhan memakai keledainya! Keledai Bileam melihat Malaikat dan hal tersebut mengganggu kelancaran perjalanan, sehingga Bileam pun kesal lalu memukuli keledainya. Dan selanjutnya keledai itu pun berbicara menegur Bileam, yang kemudian disusul dengan penampakan Malaikat. Semua itu, membuat Bileam sadar bahwa apa yang dia lakukan adalah salah. Dan untunglah, Bileam segera menyesali kesalahannya dan berubah menjadi taat sepenuhnya. Betapa ironisnya, seekor keledai saja mampu melihat, tapi manusia tidak. Apa yang dapat kita pelajari dari kasus Bileam ini?
1. Bila Allah telah memanggil kita untuk satu tugas tertentu kita hendaknya taat penuh, tekat bulat. Allah ingin para hambanya mempunyai motivasi yang benar dan tidak bercabang. Bila motivasi pelayanan di dasarkan pada perolehan upah, maka penglihatan bamba itu akan tumpul dan akan lebih tajam penglihatan keledai melihat kehadiran Tuhan. Memang mempunyai kekuatan luar biasa. Uang dapat membutakan mata kita untuk melihat kehadiran Tuhan, tetapi uang juga memang bisa menjadi “membuat hati senang, dan mata berbingar”. Pelayanan yang hanya didasarkan pada upah akan dihalangi Tuhan perjalannya. Bileam mempunyai motivasi yang salah dihadang malaikat Tuhan di tengah jalan.
2. Bila Tuhan telah menghadang perjalanan kita – Jangan lagi kita berusaha mencari jalan yang lain. Bileam berusaha mengatasi ketidak tahuannya dengan memukuli keledainya yang menyingkir dari hadangan malaikat Tuhan. Bileam mencari jalan lain dengan menyalahkan pihak lain. Cara paling klasik yang diperbuat manusia bila ada tantangan hidup menghadang.
3. Bila kita telah menyadari kesalahan kita mari kita berbalik arah. Bileam yang ditergur Tuhan melalui Keledai yang berbicara telah membuat dia sadar akan kesalahannya. Penyesalan akan kesalahan itu dia tujukkan dengan “sujud, rendah hati menyatakankita sudah salah (ay 33), meminta pengeampunan dosa atas kesalahan kita itu (ay 34), dan bertobat merubah isi apa yang kita pikirkan dan kerjakan seturu dengan deinginan Tuhan dalam perjalanan selanjutnya. Amin

Selasa, 13 Januari 2009

Allah dalam Yesus Kristus: So Dekat

Yohannes 15:1-9

Pdt.G.Panjaitan.MSi

Agama –agama memperkenalkan Allah adalah Allah yang sangat jauh, tak terjangkau dan tanpa batas. Kita mengenal Allah yang tidak dibatasi ruang dan waktu, Dia hadir di mana-mana dalam waktu yang besamaan hal yang tidak mungkin di lakukan manusia yang terbatas. Allah Maha mengetahui dia mengetahui segala apa yang ada di langit, di bumi dan di dalam laut. Dia mengetahui niat yang ada di hati dan yang dipikirkan. Dia mengetahui masa depan, hal yang tidak mungkin bagi manusia. Masa depan bagi manusia hanya bisa di prediksi oleh para peneliti, para dukun benaran, atau dukun politik. Allah adalah yang sangat berkuasa semuanya baginya mungkin. Obana yang kulit hitam mungkin menjadi presiden di AS. Itu contoh supaya kita tetap percaya, semuanya mungkin bagiNya sehingga orang Kristen mungkin menjadi presiden di Indonesia ini.

Didalam Yesus Kristus Allah yang jauh dan tidak terjangkau itu diperkenalkan dengan sangat dekat. Yesus menyebut Allah itu sebagai Pengusaha kebun anggur. Yesuslah pokok anggur itu dan orang pecayalah ranting-rantingnya. Allah diperkenalkan diri sangat dekat oleh karena itu kita tidak perlu teriak-teriak untuk memanggil namanya sebab dia Bapa yang dekat bagi kita. Kita akan didahuluankan karena kita anak-anakNya. Kita tidak perlu menangis-nangis waktu meminta sebab Dia paham akan kebutuhan kita malah dia menjadi Sahabat bagi kita.


Sebagai Pengusaha kebun, Yesus memperkenalkan Allah itu melakukan tugas yaitu memotong ranting yang tidak berbuah kemudian membakarnya dan Allah yang membersihkan ranting berbuah supaya berbuah lebih banyak lagi. Allah yang tukang kebun memberikan kita pilihan menjadi ranting yang bagaimana kita. Yesus berharap supaya kita menjadi ranting yang berbuah banyak dengan cara:
Membangun hubungan personal yang dalam dengan Yesus Dia mengatakan: tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Kita diajak membangun hubungan antar personal yang dalam. Hubungan ini akan mempengaruhi hati kita bahkan akan menguasai pikiran kita. Siapa yang dekat kepada kita dialah yang menguasai. Sama seperti ibu lebih mempengaruhi anak-anaknya karena lebih dekat dibanding dengan bapaknya. Kedekatan itu dibangun dengan intensitas bertemu berbicara dengan kwalitas yang baik. Kita harus mencintai Alkitab senang membaca kalimat-kalimat yang ada didalamnya karena Allah yang mencintai kita berbicara langsung kepada kita. Surat itu seperti surat cinta yang pertama yang selalu baru rasanya sekalipun berulang kali dibaca.

Kedekatan itu juga akan mengkontruksi kepribadian kita menjadi seturut dengan keinginan Allah dan kita menjadi manusia yang mempunyai pengembangan diri dan produktifitas. Sebaliknya Yesus mengatakan orang yang tidak menempel dengan diriNya, ada diluar dirinya, tidak menerima asupan makanan hidup dari padaNya maka hidupnya akan siasia: “Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.” (ay 16)
Kedekatan dan hubungan baik didalam Yesus akan menghasilkan hak istimewa dalam diri kita dihadapan Allah. Yesus berkata: Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.(ay 7). Saya ingat dulu cerita ibu saya yang kerjanya jualan kain. Ibu saya mempunyai toke keturunan Cina di Medan. Karena hubungan yang baik dan sudah terbangun berpuluh tahun, apabila ibu saya belanja, si Toke Cina sering mengatakan “ibu bawa sajalah... nati kita bias atur”. Ibu saya dapat belanja barang dengan uang yang hanya cukup membeli satu kodi tetapi dibawa 3 kodi.
Lebih dari itu apa yang Tuhan Yesus janjikan dan sangat membanggakan dan memberikan asa dalam kehidupan kita ketika Yesus katakan “ mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya”. Kadang kita berpikir, Ah... Tuhan apakah benar...., Tuhan akan memberikan apasaja yang saya kehendaki?. Tuhan tidak pernanh ingkar janji atau berbohong. Tuhan akan mengajari kita meminta karena Dia adalah Allah yang so dekat. Amin

Rabu, 07 Januari 2009

Memberi dengan Motivasi Yang Benar

Renungan Setelah Tahun Baru
Nats: Matius 6:1-4
Pdt.G.Panjaitan.MSi

Memberi sedekah atau membantu orang lain adalah perbuatan mulia yang dihendaki Tuhan dan manusia . Memberi itu berarti mengorbankan milik pribadi menjadi milik orang lain. Memberi juga menjadi bukti partisipasi, keikut sertaan dalam merasakan penderitaan atau kondisi orang lain.
Memberi adalah juga tindakan mengungkapkan kasih kepada Allah . Tentu banyak cara mengungkapkan kasih kepada Allah, tidaklah cukup dengan nyanyian dan mendapatkan perasaan nyaman tetapi kita perlu memberi uang kepada Allah (persembahan). Memberi uang milik kita adalah salah satu yang paling besar dari cara yang kita gunakan untuk menghormati Dia. Memberi itu adalah hasil dari telaah jiwa, pikiran dan rohani kita oleh karena itu perlu sekali kita pahami motivasi dari setiap pemberian.
Dalam firman Tuhan hari ini, Yesus memperingatkan kita tentang cara yang benar untuk memberi: Yesus menasehatkan : hatihatilah jangan pemberiannmu menjadi promosi diri sendiri (Self promotion). Sejujurnya bila kita perhatikan sifat kemanusiaan kita, keinginan mempromosikan diri sudah kita miliki sejak kecil: Kita ingin dilihat, ingin dipuji, ingin mendapat perhatian. Mungkin kelompok umur yang paling tinggi keinginannya seperti itu adalah remaja . Penampilan mereka mencari perhatian : Mereka kenakan pakaian yang bagus dengan model terbaru sehingga menarik untuk dilihat. Kadang mereka pakai tato dileher , tampilan rambut yang indah dan dandanan yang menarik seolah olah ingin mengatakan “ Look at me!” Penampilan itu adalah mengembangkan konstruksi pemahaman tentang “siapa aku”, apa yang dipersefsi orang lain terhadap diriku.


Orang yang terlalu menginginkan untuk mempertontonkan diri, mencintai diri, membanggabanggakan diri disebut dengan narsis. Pengidap narsisme dikatakan suka sekali mengemban tugas, senang menjadi pemimpin, dan bahkan cenderung menjadi politisi . Kaum narsis melebih-lebihkan kemampuan dan bakatnya, supaya dapat pujian orang lain. Kaum narsis hanya terpusat menonjolkan bakat dan kemampuannya tanpa peduli perasaan orang lain. Mereka suka kekuatan, kekuasaan, egois dan mampu tampil menarik dan sangat terbuka.
Yesus mengingatkan kita bukan orang yang narsisi. Kita diajak melakukan pekerjaan yang baik dengan benar supaya terhindar dari promosi diri. Yesus mengajarkan perbuatan baik yang benar adalah dilakukan dengan motivasi yang benar . Ia berkata: Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Pemberian dengan motivasi yang salah adalah perbuatan siasia. Paulus mengatakan dalam 1 Korintus 13:3 'Jika aku memberi semua yang aku miliki kepada orang miskin dan menyerahkan tubuhkan ke dalam api yang menyala-nyala, tetapi tanpa kasih, saya tidak memperoleh apa-apa'. Member supaya mendapat pujian orang akan membuat kita capek sendiri, sebab manusia gampang merubah sikap. Di satu saat kita bisa dipuji tetapi pada saat lain kita bisa di hujat dan dibenci. Kita tidak mungkin memuaskan keinginan manusia yang terus berkembang, dan tidak mungkin kita bertahan berbuat baik hanya untuk mendapatkan pujian. Orang munafik tidak pernah puas akan perbuatan baik yang dialakukan.
Yesus memengajari kita supaya berbuat baik seperti tindakan spontanitas. Ia berkata : Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Ini sebuah perumpamaan untuk mengajarkan spontanitas . Perbuatan baik sedemikian akan mencari pujian kepada Bapa di sorga :” Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."(Mat 5:16). Tentu perbuatan baik secara spontan tidak muncul sendiri hal itu lahir dari latihan rohani kita, dan terbangkitnya kebijaksanaan dilandasi dengan kasih yang luarbiasa dalam diri kita. Perbuatan spontan perlu dipertahankan karena muncul dari cara berpikir positif dalam segala hal. Yesus memberikan nilai kepada motivasi seperti itu dengan member janji : Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.“. Memberi dengan motivasi yang benar beroleh balasan dari bapa di sorga. Amin

Renungan Natal Departemen Keuangan RI Surabaya-Sekitarnya

Pdt.G.Panjaitan.MSi
Tema:Hiduplah Dalam Perdamaian Dengan Semua Orang
( Roma 12:18)

Keadaan Damai adalah kebutuhan umat manusia secara global, regional, nasional dan lokal. Perang di salah satu belahan dunia di Jalur Gaza sana yang sangat jauh dengan Indonesia, berdampak pada situasi masyarakat di Indonesia adalah bukti pentingnya damai secara global. Keadaan damai itu juga adalah cita-cita surgawi di dunia ini seperti yang disuarakan Malaikan Surga pada Natal pertama. Lukas mencatat nyanyian Malaikat Surga: "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya." (Luk 2:14).
Damai adalah suatu keadaan tidak berperang, tidak bermusuhan, ada harmoni dan usaha mengembangbiakkan perdamaian. Natal adalah pesta perdamaian oleh karena itu kita harus merayakannya dengan suasana akrab: ada salam-salaman, bila perlu ada cipika – cipiki kaum ibu, dan ada senyum seperti kita melihat seorang bayi yang baru lahir yang penuh dengan daya tarik. Senyum tulus itu memang mendatangkan damai, menghilangkan jarak antar manusia bahkan menyembuhkan rasa sakit. Lebih dari itu, Yesus yang lahir telah merubuhkan tembok pemisah dan membangun persekutuan baru, yang kukuh dan tangguh, yang bersumber dan berakar di dalam diri-Nya (bdk. Ef. 2:14, dst.). Didalam Yesus kita temukan keadaan damai dengan Allah dan damai dengan sesama manusia


Setiap keluarga juga membutuhkan damai . Suami Istri berdamai, jangan hanya malam hari juga harus siang hari. Anak-anak berdamai biarpun orang tua tiada. Keluarga tanpa keadaan damai kita sebut saja keluarga Jalur Gaza – Keluarga sering perang .Mereka pasti rugi, piring pecah, gelas pecah, hati pecah. Indonesia ini adalah rumah bersama kita. Dari dulu kita bercita cita hidup di rumah bersama ini dalam keadaan damai sejahtera. Namun, akhir-akhir ini rumah kita dipenuhi dengan berbagai ketegangan, bahkan krisis. Keberadaan negara sebagai rumah bersama tidak lagi dipahami dengan baik oleh para warga bangsa. Berbagai benturan antarkelompok dalam masyarakat membuat warga tidak lagi dapat hidup damai.Sesama anak bangsa yang tinggal dirumah bersama ini saling sikut menyikut: Ada pembatasan peluang, ada pengutamaan kelompok sendiri, dan alienisasi.
Dalam Perayaan Natal 2008-2009, kita diingatkan melalui nasihat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma untuk hidup dalam damai dengan semua orang. Rasul Paulus mengajak menyatakan damai melalui memberkati sesama, termasuk orang yang menganiaya mereka (Rm. 12:14). Memberkati berarti memohon agar Allah melimpahkan kasih karunia, damai sejahtera dan perlindungan (bdk. Kej. 27:27-29; Ul. 33; 1Sam. 2:20). Nasihat Rasul Paulus ini menggemakan kembali ajaran Yesus: “Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu” (Luk. 6:27-28; Mat. 5:44). Agar Jemaat dapat hidup dalam damai dengan sesama, Rasul Paulus mengajak Jemaat untuk bersukacita dengan orang yang besukacita dan menangis dengan orang yang menangis (Rm. 12:14; bdk. Mat. 5:3; Luk. 6:20; Mat. 25:31-46).
Memang mengkhotbahkan dan membicarakan perdamaian sangat gampang tetapi sangat sulit untuk merealisasikannya. Paulus mengatakan diawal Roma 12:18 dengan kata: Sedapat dapatnya: Yunaninya: dunatov artinya usahakan menjadi mungkin /be possible, be able / menjadi dapat, harus mempunyai kekuatan untuk melakukannya. Damai itu tidak datang sendiri, ada keinginan yang kuat untuk menghadirkannya.
Melalui perayaan natal kita diajak mejadi orang –orang yang membawa damai. Beberapa hal perlu kita pahami dan kerjakan:
a. Mari kita memahami Perbedaan Sebagai Kekayaan. Kemajemukan hendaknya kita disikapi dengan penuh rasa syukur. Indonesia yang multi kurtur seperti sebuah mozaik adalah berkat . Keragaman yang dimiliki harus diterima sebagai anugerah Tuhan oleh karena itu kita tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain. Paus Benediktus menulis dalam buku tamu ketika mengunjungi sebuah mesjid : Di dalam keanekaragaman kita, kita menemukan diri kita dalam Tuhan yang satu. Semoga Tuhan mencerahkan kita dan membantu kita menemukan jalan kasih dan damai.” Sudah saatnya kita membangun paham keagamaan dengan penuh toleransi , saling menghargai dan saling menghormati. Dengan cara itu kita dapat menerima pemahaman keagamaan dalam persepsi yang tepat. Dengan cara itu pula ,kita dapat membangun sebuah peradaban unggul dan dihormati oleh bangsa -bangsa di dunia,”
b. Mari kita melibatkan diri secara proaktif dalam berbagai upaya untuk membangun masyarakat yang damai, memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan umum dalam mewujudkan Indonesia sebagai rumah bersama. Hendaklah Departemen Keuangan RI Surabaya -sekitarnya dibangun menjadi rumah bersama untuk semua, tidak boleh enak sendiri dan makan sendiri.
c.Mari kita ikut mengambil bagian secara sungguh-sungguh dalam usaha-usaha menciptakan persaudaraan sejati di antara anak-anak bangsa dengan membangun kehidupan bersama di komunitas masing-masing. Persaudaraan yang sejati muncul dari sikap peka – perduli terhadap orang lain. Mari belajar budaya suku, agama lain , berusaha ramah terhadap yang ada pada mereka. Kita hilangkan kesombongan rohani yang menghakimi iman orang lain. Mari kita bangun Departeman Keuangan RI di Surabaya ini persaudaraaan sejati dengan mengerjakan pekerjaan yang baik sebanyak-banyaknya supaya jangan ada ruang dimana kejahatan dapat merajalela. Hendaknya Departemen Keuangan RI sebagai ruang melakukan kebaikan bukan sebaliknya. Amen