Jumat, 29 Juni 2012

TIDAK LAYAK

(Johannes 1: 19 – 28) Kerendahan hati, itulah inti yang mau dikatakan kepada kita pada saat ini. Masihkah kerendahan hati itu kita miliki sekarang? Satu persoalan yang sering terjadi di dalam kehidupan ini adalah ketika kita sudah terkenal atau mempunyai nilai lebih dari orang lain, atau pun ketika kita sudah mencapai posisi puncak di dalam sesuatu pekerjaan, bisa saja kita jatuh ke dalam kesombongan. Satu contoh misalnya, ada seseorang mempunyai kesempatan menjadi pemimpin di dalam suatu organisasi, lalu dengan demikian dia memimpin dengan sesuka hati. Atau orang yang mempunyai harta yang banyak, lalu dia mengatur semua orang dengan kekayaannya dan dengan sesukanya juga. Yohanes sebenarnya punya kesempatan seperti itu. Apa sih kekurangannya kalau dia mengaku bahwa dia adalah Mesias? Tapi ketika orang lewi menanyakan:”Siapakah engkau?” dia menjawab: “Aku bukan Mesias.” (ay. 19-20). Atau dia mengaku sebagai Elia, atau “nabi yang akan datang” (ay.21), namun semuanya itu dia jawab dengan “Bukan!” (ay.21-22). Artinya, dari ukuran pandangan orang lain, dia layak disebut sebagai Mesias, sebagai nabi Elia, atau pun sebagai nabi yang akan datang. Namun dia tidak melakukan itu. Justru dia hanya mengaku bahwa dia hanyalah: “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! Seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya” (ay. 23), intinya pertama adalah: “aku hanyalah suruhan Allah”. Kedua, Dia (Yesus), yang datang kemudian dari pada aku: “Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.” Itulah yang saya sebutkan dengan kerendahan hati. Tidak menyombongkan diri, tidak merasa lebih hebat dan tidak menggunakan kesempatan itu untuk kepentingan dirinya sendiri. Karena itu, Advent ketiga ini mengingatkan kita untuk selalu rendah hati. Sebab kita hanyalah alat Tuhan untuk memuliakan nama-Nya di dunia ini, sebagai apa pun kita. Persipkanlah jalan bagi Tuhan. Syalom. Amen!

MENGUJI PEMBERITAAN

JEREMIA 23:16-29 Kita tahu bahwa sumber-sumber pengetahuan berbagai macam. Ada pengetahuan yang didapat dari pengalaman hidup manusia (pengetahuan empiris), ada pengetahuan yang muncul dari pikiran manusia (rasional) Ada penghetahuan yang bersumber dari kekuasaan yang sah yang dimiliki seseorang dan diakui oleh orang lain (otoritas) Semuanya ini bersumber dari manusia. Namun ada sumber pengetahuan yang terpenting yaitu pengetahuan yang bersumber dari Tuhan yang transsendent, Allah yang dari dekat dan Allah dari yang jauh juga (sumber wahyu). Seseorang yang mengaku menyuarakan firman Tuhan namun bersumber dari yang lain berarti dia menyuarakan kebohongan dan kepalsuan. Banyak para nabi yang berbuat demikian pada jaman Yeremia. Mereka bernubuat, berkhotbah dan melaksanakan tugas kenabian namun mereka tidaklah menyurakan Firman Tuhan. Sumber yang mereka katakana bukan dari Tuhan. Khotbah mereka hanya membuat orang senang: Orang yang melakukan kejahatan tidak ditegor, pelaku korupsi didiamkan saja karena mungkin mereka menyumbang ke gereja lebih banyak, orang yang berjinah, berselingkuh tidak ditegor. Mereka hanya mengkhotbahkan kesuksesan dan mengatakan “tidak-apa-apa Tuhan maha pengasih, Dia akan maha pengampun dan akan mengampuni dosa-dosa kita”, seperti yang dikhotbahkan nabi-nabi palsu pada jaman Yeremia: mereka selalu berkata kepada orang-orang yang menista firman TUHAN: Kamu akan selamat! dan kepada setiap orang yang mengikuti kedegilan hatinya mereka berkata: Malapetaka tidak akan menimpa kamu!". Karena itu hati-hati dengan “theologia selamat dan sukses “, bisa saja itu tidak bersumber dari Tuhan. Kita harus ingat bahwa ada ancaman. murka dan penghukuman dihadapan Tuhan. Nabi harus mengkhotbahkan dan menyuarakan bahwa Firman Tuhan adalah kekuatan yang menguji kemurnian hati, menghancurkan kebohongan, kemunafikan, kepalsuan hidup manusia: Bukankah firman-Ku seperti api, demikianlah firman TUHAN dan seperti palu yang menghancurkan bukit batu?. marilah kita uji setiap pemberitaan. Gereja HKBP sudah menerbitkan Konfessi, pengakuan iman sebagai alat uji pemberitaan. Untuk menghindari ajaran palsu, yang menyesatkan kita harus kembali kepda Firman Tuhan yang terdapat dalam Alkitab yaitu Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.Tidak ada satu kitab yang lebih utama di dalamnya. Semua kitab di dalam Alkitab saling terkait karena bersumber dari wahyu yang sama. Didalamnya Allah sudah mengatakan apa kehendakNya yang perlu disampaikan kepada orang percaya. Bila ada yang mencerikatan bahwa dia bermimpi jangan dikatakan itu menjadi wahyu dari Tuhan . Firman Tuhan mengingatkan kita: Nabi yang beroleh mimpi, biarlah menceritakan mimpinya itu, dan nabi yang beroleh firman-Ku, biarlah menceritakan firman-Ku itu dengan benar! Apakah sangkut-paut jerami dengan gandum? demikianlah firman TUHAN. (ay 28). Pdt.G.Panjaitan.STh

PERCAYA DENGAN SEGENAP HATI

Amsal 3:1-6 Oleh: Pdt.Gunawan Panjaitan.Msi Apabila kita ditanya secara pribadi: Apakah anda percaya kepada Tuhan dengan segenap hati? Tanpa ragu sudah pasti jawabannya ”ya saya percaya dengan segenap hati”. Tetapi harus kita sadari, bahwa percaya pada Tuhan bukanlah hal sederhana. Ketika kita menghadapi jalan hidup penuh cobaan, pergumulan berat, bahaya yang mengancam, perasaan tertekan, kehilangan orang yang dicintai, jalan hidup menjadi gelap dan berat misalnya perasaan orang tua yang kehilangan anak, ibu yang mrnjadi janda dll. Tuhan menginginkan kita tetap percaya sekalipun jalan hidup sangat susah dan sulit dipahami. Percaya kepada Tuhan dengan segenap hati adalah sebuah mata pelajaran yang harus dilatih untuk menghayatinya. Amsal ini berisikan nasehat orang tua kepada anak. Orang tua sumber nasehat karena sudah belajar dan mengalami banyak hal dalam hidup. Hidup yang dapat bertahan di tengah dunia ini adalah yang menaruh kepercayaan kepada Tuhan. Ada 4 hal yang kita pelajari dari sikap percaya kepada Tuhan: Menerima bahwa semuanya tidak dapat kita mengerti. Ketika pendetitaan melanda kehidupan kita, kita akan bertanya: kenapa bisa terjadi ini Tuhan? Kenapa kau biarkan ini menghantam kehidupan saya?. Kenapa orang yang baik dan jujur mengalami cobaan seberat ini? Dimanakah kuasa dan keadilan Tuhan? Semuanya adalah pertanyaan yang sulit dijawab. Tindakan Tuhan banyak yang kita tidak mengerti. Kesadaran ini perlu dimiliki orang pecaya bahwa tidak semuanya dapat kita mengerti arti kejadian dalam hidup ini. Dalam Yesaya 55:8-9 Tuhan berfirman: Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku.... Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” Berpeganglah pada iman kepercayaanmu. Sekalipun perjalanan hidup tidak semuanya kita mengerti, cobaan tidak akan henti-henti menerjang tetapi kita harus mempunyai ”sauh / jangkar” untuk menjaga dan memegang hidup kita. Sauh / jangkar itu adalah iman dan pengharapan kita (Ibr 6: 19). Kita juga membutuhkan satu kompas untuk mengarahkan perjalanan kita dan batu penjuru yang menjadi landasan dan pimpinan membangun kehidupan kita. (Efesus 2:20) Yesus memberikan perumpamaan tentang orang yang mempunyai sauh dalam hidupnya dalam Matius 7:24-27 Syukurilah perjalanan hidupmu. Setiap orang adalah unik (mempunyai kehususan sendiri) dan perjalanan hidupnya berbeda dengan orang lain. Keunikan adalah berkat Tuhan dan oleh karena itu kita harus menikmati jalan hidup kita sendiri tanpa menyesalinya ketika tidak sama dengan jalan hidup orang lain disekitar kita (unang ho sai mangapian). Dalam keunikan itu, setiap orang perlu menghayati nasehat ”Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.” Yesus adalah jalan dan kehidupan di dalam dia kita akan mensyukuru apapun gambaran dan warna perjalanan hidup kita. Percaya bahwa Tuhan akan menolong kita melampaui perjalanan hidup. Perjalanan hidup tidak ada yang bebas dari permasalahan siapa pun orangnya: Baik para rasul, para nabi, para imam dan semua orang percaya. Tuhan hanya menjanjikan bahka kita akan Dia sertai dan tolong ketika menghadapi perjalanan hidup yang berat. Palus sebagai rasul mengingatkan kita akan hal itu berdasarkan pengalamannya: ”Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah.(2 Korin 1:3-4). Pertolongan Allah memampukan kita menjadi penolong bagi orang lain. Jalan hidup penuh warna ada kebahagiaan dan ada duka cita. Perjalanan hidup bagi setiap orang berbeda dan itulah keadilan Tuhan. Perjalanan hidup dapat kita lalui apabila kita percaya kepada Tuhan dengan segenap hati. Amin. gp

Sabtu, 07 April 2012

TANGIANG PANONDIANAN NI JESUS

Johannes 17: 20-26


Adong do mandok: Sian tangiang boi do taboto “aha na gumodang di holsohon rohana”. Molo ganup tongkin sahalak ina mandok di tangiangna : Ale Tuhan angka anakhonhu, tarlumobi borungku si paidua i, na dipangarantoan ramoti ma padao parmaraan: Na marlapatan do i na sai diholsohon do Borunai isarana na hurang malo dope ibana manjaga dirina, manang na sai ganggu dope rohana di pangalahona. Ala ni i asal martangiang: Ale Tuhan borungku sipai dua i..! Molo tapangke pangantusion on, jala tapamanat turpukta i ma: tangiang ni Tuhan Jesus: Aha ma na gumodang di holsohon Jesus ? Alusna holan sada do: Hasadaon ni angka na porsea di portibi on. Diboto Jesus do titik rawan ni angka na porsea ( Huria) i ma “maol marsada”. Ala ni ima di pangido Tuhan Jesus tu Ama I di bagasan tangiang hamalimonNa : Asa sada nasida saluhutna (ut ommes unum sin).


Molo taparrohahon Sejarah Gereja di portibion: Sian na robi sahat tu nuaeng on sai maol do dapot hasadaon i. Mulana i sude hita di goari do Huria Hatopan (Am / Katolik). Jala Bulan Oktober 1531 Tagoari ma Ari Reformasi songon hari hatutubu ni Gereja Protestan: Tarbagi ma huria i gabe adong ma huria na arus protestan, isarana Luteran. Ndada holan i, Ala ni Pergolakan politik di Kerajaan Romawi : poncama muse huria I gabe adong ma tagoari : Kristen Ortodok na berpusat di Istambul – Negara Turki nuaeng on. (Konstantinopel Najolo). Ndada holan i di bagasan protestan i adong do muse parbotan. Marbolat muse dope huria i di Protestan na di Indonesia: Adong ma di Goari: Aliran Lutheran (HKBP/HKI/GKPI/GKLI/GKPS/GKPPD) rarat Songon goar ni bus/ manang angkotan (PPD?BTN?KPD?): Sabotulna HKBP Hian do sudena on) Adong muse digoari aliran: Calvinis : GBKP (Gereja Karo), Adong Muse Methodis (naro sian Inggris), adong muse : Bala Keselamatan, Adong Karismatik (GPDI/ GSJA/GKII,PII), Adong muse Adventis, Saksi Jahowa . Pangkalna i ma maol do huria i marsada. Rarat ma huria I dibagasan ragam ni angka parasingan. Adong muse do ninna adong goar ni Gereja: GLKS (Gereja Langsung ke sorga) tidak lewat loket. Botulbotul do na hinolsohon ni Tuhan Jesus tung I do: I ma hasadaon ni huria.

Parsoalan ni huria i ma: Boi dope dapot natinangianghon ni Tuhan Jesus on: Alai ndang holan nasida hutangiangkon, dohot do angka na naeng porsea dope di Ahu, tinogu ni hatanasida: Asa sada nasida saluhutna; songon Ho, ale Amang, di bagasan Ahu jala Ahu di bagasan Ho, songon i ma nang nasida di bagasan Hita”. Tarpatupa ni huria dope mampareahi on ?. Ala na di huria ninna: adong do marmancam soara ni giringgiring: Adong soarana: Tee…nang….Teee…nang”. Adong “gaooor…gaooor” laos adong “Tam-pung…tam-pung”. Angka on ma na ta hilala mambahen gaor i tarlumobi ma huria dongot giring-giring: Tampung ! Curi domba istilahna.

Ala “Hasadaon ni naporsea do na sinintasintahon ni Tuhantai” sai diusahon huria ma nuaeng na mampareahi hasadaon. Tagoari ma i Gerakan oikumene: i ma gerakan na mangusahahon tangiang ni Tuhan Jesus on: Gerakan kesesaan gereja. Adong do tingkat Dunia: WCC (World Council of Churches) markantor di Geneva - Swiszerlan. Adong LWF (Lutheran World Federation) Federasi Gerejagereja Lutheran sedunia, Markantor di Geneva. Adong muse : CCA: Cristian Conference of Asia (Konferensi Kristen Asia). DiIndonesia : PGI (Persekutuan Gereja2 di Indonesia) Adong: BKAG (Badan Kerjasama Antar Gereja) dlna. Angka on ma usaha na pinatupa ni Huria asa dapot hasadaon i.

Bohama nuaeng di tingkat Ruas ni huria: Boha dapot do hasadaon songon na nidok ni Jesus on ?. Domu tu si dipangido Tuhan Jesus do, asa diradoti huria i na ummarga i ma hasadaon ni angka na porsea I:
Sada manghangoluhon Barita na uli I na tarsurat di Bibel dipandan Narobi dohot di Padan na imbaru. Jala pangarimpunanna I ma patik Holong ni roha. Sude Huria i ma huria na hinaholongan ni Debata.

Sude Naporsea i, naeng ingkon marusaha mambaritahon barita na uli i asa di boto portibion : Jesus Tuhan na sinuru ni Ama I gabe haluaon ni portibion. Nantoari tarjaha ahu do di surat kabar adong jamita na mandok: Marisuang do hita mandok Porsea di Debata Ama, Di Jesus Kristus dohot di Tondi Porbadia di gareja, anggo dung haruar sian gareja pintor mangulahon parbadaan, harongrangon, korupsi, dohot mangulahon angka maksiat. Napaleahon Tuhan Jesus do i. Hasangapon ni huria i ndang di organisasina, manang di uluanna: Alai di Jesus I sandiri. Ala ni I na paleahon huria ni dongan, na paleahon Tuhan Jesus.

Domu tusima ingkon argahononta do hasadaon ni huria: Alai unang pola talapathon hasadaon dohot ”hasarupaan”, nang so sarupa hita boi ma marsada. On ma na di goargi “Unity in diversity” hasadaon dibagasan ragam parasigan. Molo marasing pe hita na patuduhon hamoraon ni Debata do i. Jala marguna do parasingan I asa dapot serep ni roha, dohot mananda jatidirinta.
Amen

Pdt.G.Panjaitan.MSi




Jumat, 06 Mei 2011

“TAKE OVER”

Pdt.Gunawan Panjaitan.STh.MSi

Yehezkiel 34:11-19

1. Hidup di negeri yang dilanda perang akan menimbulkan berbagai penderitaan. Di Libia saat ini terutama di kota-kota zona perang, tidak ada yang menjamin bila istrinya pergi belanja ke pasar selamat pulang ke rumah, jangan-jangan pulang sudah jadi mayat kena peluru nyasar. Atau bisa saja anak sehat pergi sekolah dan tidak pulang-pulang karena diculik dsb. Atau tidak perlu jauh jauh, di Indonesia saja: anak tidak pulang-pulang, tidak perduli orang tua, keluarga karena sudah CCO (cuci otak). Semua kejadian yang membuat hubungan manusia rusak, tercerai berai, luka, sakit, membenci adalah sebagai bukti kegagalan manusia membangun ketaat kepada Tuhan dan juga kegagalan para pemimpin bangsa menggembalakan masyarakatnya. Pada zamannya Hesekiel Israel, para pemimpin yang menggembalakan bangsa itu gagal sehingga Allah melakukan “take over” mengambil alih.

2. Tuhan Yesus adalah Kritus, Dia adalah Raja, bukan hanya raja orang Yahudi atau raja Yerusalem. Kristus adalah Raja alam semesta, termasuk Indonesia. Sebagai Raja, Dia memiliki tugas untuk itu melihat bahwa keadilan harus dilakukan di seluruh dunia di setiap detik kehidupan. Dia harus mendengarkan dan menyimak keluhan jutaan orang setiap hari. Para Pembantu RT yang terlantar di Arab, yang disiksa di negri jiran , ABK di Somalia dan orang yang terlantar, miskin dan gelandangan. Tuhan tidak akan membiarkan apabila ada raja di dunia ini yang membuat daerah kekuasaanya menjadi lembah dosa, dengan tidak perduli nyawa manusia, membiarkan negerinya jadi sarang penyamun, rumah koruptor dan markas teroris. Semuanya itu berakibat pada penderitaan umat manusia semakin menganga. Menyikapi pemimpin yang gagal sedemikian, seturut dengan janji Allah, maka kekuasaannya harus di take over, diambil alih: Tuhan Berfirman Dengan sesungguhnya Aku sendiri akan memperhatikan domba-domba-Ku dan akan mencarinya.. Aku akan menyelamatkan mereka dari segala tempat... Aku akan membawa mereka keluar ... mengumpulkan ...membawa ke tanahnya...mengembalakannya .. Aku akan membiarkan mereka berbaring, ...Sungguh, Aku akan menjadi hakim...” (ay 11-17) Allah tidak mau membiarkan ketidak adilan, ketidak benaran, ketidak perdulian, ketimpangan berlangsung lama. Allah akan mengambil alih dan bertindak langsung.

3. Allah ingin kita tidak menunggu orang lain bertindak tetapi kita take over pelayaan karena kita adalah duta Allah, teman sekerjaNya. Kita mencari yang hilang: membawa pulang yang tersesat, membalut yang luka, menguatkan yang sakit serta yang gemuk dan yang kuat akan dilindungi; menggembalakan mereka sebagaimana seharusnya. (Ay 16) Anak Sekolah minggu kita adalah domba yang butuh gembala yang baik: di rumah, di sekolah dan di gereja. Mereka butuh contoh, teladan, karena itu kita tularkan kebaikan dan ketaaan dan takut akan Tuhan--Supaya mereka jadi Pemuda Batak yang bertumbuh dalam Tuhan. Selamat Hari Minggu.


Kamis, 05 Mei 2011

HIDUP DALAM WILAYAH TERANG

Pdt.G.Panjaitan.STh.Msi

1 Yohanes 2 : 11 – 17

1. Tindakan Allah yang menyelamatkan manusia melalui proses kematian Yesus di kayu salib dan kebangkitanNya telah merubah status orang percaya yaitu menjadi anak-anak Allah. Melalui babtisan kita sudah terhisab pada pengalaman bersama dalam kematian dan kebangkitanNya sehingga kita memperoleh kehidupan yang baru (bd Rom 6:3-6) Kita sudah berada di wilayah terang bukanlagi hidup di wilayah kegelapan. Pokok teologia ini menjadi pusat pemberitaan surat Yohannes. Para pembaca diharapkan supaya memahami status yang baru ini: hidup di dalam terang, sehingga mereka mau mengaplikasi keselamatan itu dengan tindakan-tindakan nyata seperti memelihara kesusilaan dan cinta kasih. Mereka harus berani menolak ajaran guru-guru sesat yang mengajarkan bahwa tidak ada korelasi antara keselamatan dengan moralitas atau keagaamaan ritual saja.

2. Yohanes mendorong jemaat untuk memahami bahwa keselamatan yang kita terima adalah tindakan Allah dimana tidak ada unsur tawar menarar (bargaining) antara kedua pihak yang berdamai. Oleh karena itu hidup di wilayah terang harus menjadi kewajiban kita. Tapi hari ini kita perlu memperhatikan jalan hidup kita apakah sudah berjalan dalam kehidupan di wilayah terang . Untuk itu perlu beberapa ujian:

a. Ujian terhadap ketaatan

Yohanes mengingatkan orang-orang percaya dalam berbagai kelompok usia tentang ketaatan yang sudah mereka miliki, apakah mereka memelihara ketaatan pada Tuhan. Yohanes mengatakan : Aku menulis kepada anak-anak.. telah diampuni, kepada bapa-bapa, karena kamu telah mengenal Dia, kepada orang muda, karena telah mengalahkan yang jahat. Jemaat harus mencintai ketaatan itu dengan berusaha menjaga, “mangaradoti/memelihara/menyimpan/keep” seperti seseorang yang terus menerus aktif menjaga seperti biji mata. Tentu bukan dengan terpaksa tetapi ada “good will” keinginan baik dan kerelaan hati.

Kita tau betul manusia tidak sanggup menunjukkan ketaatan secara bulat tanpa cela, namun yang terutama apakah ada keinginan terus menerus untuk menuruti perintah Tuhan itu. Kemampuan terus menerus kita dapat apabila kita mengasihiNya. Yesus dalam Yoh 14:15 menyebutkan : "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” Kasih itu kekuatan untuk ketaatan.

b. Ujian terhadap tindakan

Secara sederhana dibuat perbandingan untuk menguji tindakan kita: mengasihi berarti di dalam terang, membenci berarti di dalam gelap. Tidak wilayah abu-abu yang samar-samar. Tidak wilayah abu-abu dalam iman Kristen. Tidak ada purapura mengasihi dan pura-pura membenci, tidak ada tempat bagi sandiwara iman, sebab tidak ada pertemuan yang gelap dengan terang. Sebagai anak kita wajib bertindak sesuai dengan aturan main dari orang yang memelihara kita. Allah ingin kita selalu di wilayah terang. Dalam hal ini sangat dibutuhkan kedekatan dengan Allah dengan cara melakukan kehendaknya. Kedekatan atau Intimitas dengan Allah mendorong kita hidup dalam wilayah terang yang mencintai jalan-jalan Allah.

c. Ujian terhadap Tujuan Hidup

Yohanes mengingatkan akan tujuan hidup kita. Adalah sebuah kehampaan bila hanya dunia ini saja tukuan hidup orang percaya, sebab “dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya” (ay 17). Tentu kita tidak tetap hidup di dunia ini, tatapi cara hidup kita adalah dengan cara hidup sorgawi. Hidup sorgawi ditandai dengan tinggal dalam kasih Bapa. Yesus menyebutnya kita menjadi “terang dan garam” dunia. Hidup didunia ini sebuah perjalanan sampai kita menuju tujuan akhir yaitu hidup selamalamanya.

HIDUP DALAM WILAYAH TERANG

Pdt.G.Panjaitan.STh.Msi

1 Yohanes 2 : 11 – 17

1. Tindakan Allah yang menyelamatkan manusia melalui proses kematian Yesus di kayu salib dan kebangkitanNya telah merubah status orang percaya yaitu menjadi anak-anak Allah. Melalui babtisan kita sudah terhisab pada pengalaman bersama dalam kematian dan kebangkitanNya sehingga kita memperoleh kehidupan yang baru (bd Rom 6:3-6) Kita sudah berada di wilayah terang bukanlagi hidup di wilayah kegelapan. Pokok teologia ini menjadi pusat pemberitaan surat Yohannes. Para pembaca diharapkan supaya memahami status yang baru ini: hidup di dalam terang, sehingga mereka mau mengaplikasi keselamatan itu dengan tindakan-tindakan nyata seperti memelihara kesusilaan dan cinta kasih. Mereka harus berani menolak ajaran guru-guru sesat yang mengajarkan bahwa tidak ada korelasi antara keselamatan dengan moralitas atau keagaamaan ritual saja.

2. Yohanes mendorong jemaat untuk memahami bahwa keselamatan yang kita terima adalah tindakan Allah dimana tidak ada unsur tawar menarar (bargaining) antara kedua pihak yang berdamai. Oleh karena itu hidup di wilayah terang harus menjadi kewajiban kita. Tapi hari ini kita perlu memperhatikan jalan hidup kita apakah sudah berjalan dalam kehidupan di wilayah terang . Untuk itu perlu beberapa ujian:

a. Ujian terhadap ketaatan

Yohanes mengingatkan orang-orang percaya dalam berbagai kelompok usia tentang ketaatan yang sudah mereka miliki, apakah mereka memelihara ketaatan pada Tuhan. Yohanes mengatakan : Aku menulis kepada anak-anak.. telah diampuni, kepada bapa-bapa, karena kamu telah mengenal Dia, kepada orang muda, karena telah mengalahkan yang jahat. Jemaat harus mencintai ketaatan itu dengan berusaha menjaga, “mangaradoti/memelihara/menyimpan/keep” seperti seseorang yang terus menerus aktif menjaga seperti biji mata. Tentu bukan dengan terpaksa tetapi ada “good will” keinginan baik dan kerelaan hati.

Kita tau betul manusia tidak sanggup menunjukkan ketaatan secara bulat tanpa cela, namun yang terutama apakah ada keinginan terus menerus untuk menuruti perintah Tuhan itu. Kemampuan terus menerus kita dapat apabila kita mengasihiNya. Yesus dalam Yoh 14:15 menyebutkan : "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” Kasih itu kekuatan untuk ketaatan.

b. Ujian terhadap tindakan

Secara sederhana dibuat perbandingan untuk menguji tindakan kita: mengasihi berarti di dalam terang, membenci berarti di dalam gelap. Tidak wilayah abu-abu yang samar-samar. Tidak wilayah abu-abu dalam iman Kristen. Tidak ada purapura mengasihi dan pura-pura membenci, tidak ada tempat bagi sandiwara iman, sebab tidak ada pertemuan yang gelap dengan terang. Sebagai anak kita wajib bertindak sesuai dengan aturan main dari orang yang memelihara kita. Allah ingin kita selalu di wilayah terang. Dalam hal ini sangat dibutuhkan kedekatan dengan Allah dengan cara melakukan kehendaknya. Kedekatan atau Intimitas dengan Allah mendorong kita hidup dalam wilayah terang yang mencintai jalan-jalan Allah.

c. Ujian terhadap Tujuan Hidup

Yohanes mengingatkan akan tujuan hidup kita. Adalah sebuah kehampaan bila hanya dunia ini saja tukuan hidup orang percaya, sebab “dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya” (ay 17). Tentu kita tidak tetap hidup di dunia ini, tatapi cara hidup kita adalah dengan cara hidup sorgawi. Hidup sorgawi ditandai dengan tinggal dalam kasih Bapa. Yesus menyebutnya kita menjadi “terang dan garam” dunia. Hidup didunia ini sebuah perjalanan sampai kita menuju tujuan akhir yaitu hidup selamalamanya.

KRISTEN SUSU?

Pdt.Gunawan Panjaitan.STh.Msi

1 Korint 3:1-11

1. Berapa banyak dari kita yang ingin bekerja sebagai bagian dari sebuah tim kerja? Berapa banyak dari kita yang lebih suka bekerja sendiri? Dalam Firman Tuhan hari ini Paulus sedang mencoba untuk membangun orang-orang Korintus menjadi sebuah tim kerja (pelayanan). Tujuannya supaya bekerja secara efektif dalam membangun Kerajaan Allah. Jemaat Korintus adalah orang-orang berbakat, bertalaenta dan bukan tipe upahan namun mereka tidak sebagai team work. Beberapa orang mengatakan: "Aku dari golongan Paulus," dan yang lain berkata: "Aku dari golongan Apolos". Potensi tidak menjadi berkat bagi semua malah menjadi sumber pengkotak-kotakan jemaat. Mereka cenderung berpikir dirinya, pekerjaannya lebih penting dari pada orang lain. Mereka melihat pekerjaan orang lain dengan sepele.

2. Ketidak mampuan membangun team work inilah yang menghasilkan penilaian bawa mereka adalah “kristen susu” Paulus mengatakan : “..kamu ..manusia duniawi, yang belum dewasa dalam Kristus. Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras”. Jubileum 150 Tahun HKBP dengan tipe orang Batak yang dinamis sudah waktunya menjadi Kristen Makanan Kerasa bukan Kristen Susu. Ada beberapahal yang perlu kita bangun bersama supaya Kristen Makanan Keras

a. Kesediaan menjadi bagian dari Tim:

Banyak orang yang menolak menjadi bagian sebuah tim kerja pelayan dengan berbagai alasan: iri hati, ketidak senagan, pernah kecewa, pembiaran, like dislike, dll. “penonton dan juru soraklah dulu saya” katanya. Kita percaya selalu ada yang mau Tuhan pakai untuk kerajaanNya. Sebab hakekatnya setiap orang memiliki potensi. Paulus mengatakan bahwa kita adalah “ Pelayan-pelayan Tuhan..... masing-masing menurut jalan yang diberikan Tuhan kepadanya.” (ay 5b)


b. Kesediaan mengakui perbeadan potensi diri.

Sumberdaya individu berbeda, dan tidak pernah cukup karena itulah dibutuhkan team work. Kerja sama timlah yang menghasilkan prestasi yang luar biasa dibanding prestasi yang dikerjakan individu, karena itu perlu pengakuan bahwa potensi diri kita semua berbeda. Bila anda merasa sukses hari ini, ingatlah bahwa keberhasilan itu tidak pernah dihasilkan kekuatan diri anda sendiri tetapi prestasi sebuah tim kerja yang panjang rangkaiannya. Paulus menekankan: " Aku menanam, Apolos menyiram” artinya sesuatu keberhasilan didasarkan pada kerjasama tim.

3. Kesediaan untuk saling mempercayai
Kita butuh waktu dalam membangun sebuah tim kerja yang solid karena dibutuhkan “
trust” - keadaan saling mempercayai. Marilah kita mengerjakan bagian kita dengan baik dan teman kita percaya bahwa teman kita melakukan hal yang sama. Tidak ada superstar dalam tugas pelayanan di Gereja dan pelayanan tidak untuk mencari pujian diri sebab “Allah yang memberi pertumbuhan”. Amin.